Work-life balance terdengar sempurna, tetapi sulit untuk menjalankannya. Salah satu pemicunya adalah teknologi yang memungkinkan kita bekerja dari mana dan kapan saja dibutuhkan oleh tim. Model kerja hibrida pun menambah beban kerja, karena kita seolah-olah harus bekerja terus-menerus karena keberadaan kita tak harus ke lokasi kerja. Apakah work-life balance keniscayaan atau sekadar angan-angan?
Memahami Work-life Balance
Work-life balance mengacu pada tingkat prioritas antara kegiatan personal dan profesional dalam kehidupan seseorang. Keseimbangan ideal antara pekerjaan dan kehidupan personal masih diperdebatkan oleh orang-orang di sekitar kita atau tanpa sadar kita pun melakukannya.
Di tengah kemajuan teknologi, karyawan bisa memulai bekerja ketika menyiapkan sarapan pagi di rumah, rapat daring di kedai kopi, atau merevisi pekerjaan di dalam kereta. Alhasil, teori tentang work-life balance tidak mudah untuk dipraktikkan dan hanya membuat orang-orang terobsesi dengan keseimbangan tersebut.
Bila karyawan tidak memperoleh keseimbangan dalam pekerjaan dan kehidupan pribadi, maka mereka cenderung stres. Stres mental diidentifikasi sebagai masalah ekonomi dan kesehatan signifikan yang disebabkan oleh persepsi kebutuhan karyawan untuk melakukan lebih banyak hal dalam waktu yang lebih singkat.
Siapa yang bertanggung jawab atas work-life balance di lingkungan kerja? Pemberi kerja (perusahaan atau pengusaha)? Karyawan?
Secara umum, anggapan yang berlaku adalah perusahaan bertanggung jawab terhadap kesehatan karyawan, terlepas dari tanggung jawab moral, karyawan yang stres cenderung kurang produktif dan lebih mungkin melakukan kesalahan.
Next: Saran HR: Bertahan di Tengah Ketidakpastian Ekonomi dan Politik
5 Kesalahpahaman Dalam Work-Life Balance
Profesor leadership di Oral Roberts University David Burkus mengatakan bahwa keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan personal di dunia nyata sering tidak berhasil. Pasalnya, kedua ranah tersebut saling terkait. Jika Anda memisahkan keduanya justru dapat memperburuk keadaan.
Namun, bukan berarti pekerjaan akan menguasai seluruh hidup Anda, sehingga kehidupan pribadi harus dikesampingkan. Meski demikian, tak sedikit orang yang memiliki kesalahpahaman tentang work-life balance. Apa saja kesalahpahaman tersebut dan dampak yang ditimbulkan?
1. Bekerja lembur untuk kemajuan karier
Konsep ini telah menjadi mitos pada setiap peran dan tahapan karier, sehingga memengaruhi karyawan di semua level. Tak sedikit di antara mereka bekerja lembur atau menambah jam kerja untuk menunjukkan dedikasi atau merasa tertekan untuk melakukan lebih dari yang diharapkan demi memperoleh promosi.
Gallup memperlihatkan sebesar 50% karyawan mengatakan beban kerja yang berat dan jam kerja yang panjang adalah faktor utama penyebab kelelahan kerja atau burnout. Komitmen terhadap pekerjaan adalah hal penting, tetapi slogan bekerja lembur untuk promosi atau lebih banyak bekerja berarti lebih baik berisiko bagi individu dan organisasi.
Saat ini, perusahaan menyadari lembur kronis dapat meningkatkan turnover karyawan, sehingga menurunkan moral dan merusak hasil bisnis. Mereka percaya bahwa menciptakan budaya kerja yang sehat sama dengan menghargai hasil daripada sekadar jam kerja.
2. Perusahaan kecil dan menengah tidak menawarkan banyak pilihan
Tidak setiap perusahaan menawarkan fasilitas seperti Google dengan sleep pods atau ruang permainan. Perusahaan kecil dan menengah terkadang tidak menawarkan pilihan keseimbangan.
Perusahaan yang paling efektif, terlepas dari ukurannya, menemukan cara kreatif untuk membangun work-life balance. Ketika perusahaan memberikan contoh work-life balance, karyawan merasa termotivasi untuk melakukan hal yang sama, seperti:
- Mensponsori acara karyawan dan keluarga
- Menawarkan jadwal kerja fleksibel dan kerja jarak jauh
- Mendorong manajer untuk menjadi teladan dalam work-life balance yang mereka inginkan bagi anggota timnya
- Membangun kemitraan untuk menawarkan diskon kepada staf yang mengikuti kegiatan rekreasi.
- Berinvestasi pada perangkat atau platform digital untuk membantu karyawan melacak kesehatan dan kesejahteraan mereka.
- Tawarkan fasilitas penitipan anak di tempat kerja untuk orang tua yang bekerja atau diskon untuk pekerja jarak jauh.
Next: 2 Kiat Hadapi Burnout Mencari Pekerjaan
3. Time management will set you free
Tidak ada formula baku untuk menguasai jadwal sehari-hari. Konsep lama 8-8-8, yakni delapan jam untuk bekerja, tidur, dan kehidupan pribadi, tidak relevan lagi bagi dunia saat ini. Kuncinya bukanlah time management will set you free, tetapi fokus pada apa yang benar-benar penting. Bagaimana cara yang bisa dilakukan oleh karyawan:
- Mengidentifikasi nilai dan tujuan hidup
- Menggunakan energi pada hal-hal yang paling penting
- Memaksimalkan produktivitas dan hasil kerja
- Memiliki waktu untuk memprioritaskan keluarga, teman, dan hobi
- Mengevaluasi kembali prioritas pekerjaan dan hal personal secara berkala
4. Teknologi akan memberi lebih banyak waktu luang
Ini adalah kesalahpahaman dari work-life balance. Kemajuan teknologi telah mengubah cara dan tempat kerja, tetapi belum tentu memberikan lebih banyak waktu istirahat. Konektivitas digital yang konstan membuat karyawan merasa tak ada pekerjaan yang telah selesai. Bagaimana solusinya? Anda perlu kesadaran diri untuk menetapkan batasan, seperti:
- Mematikan notifikasi saat makan dan di luar jam kerja
- Memberi tahu rekan kerja tentang waktu komunikasi pada jam kerja
- Memahami dan mengintegrasikan AI ke dalam pekerjaan
- Menyisihkan waktu istirahat
Keseimbangan datang karena Anda menggabungkan teknologi dengan pengetahuan manusia dan strategi efisiensi kerja.
5. Kesuksesan perusahaan = kebahagiaan
Bekerja keras, menghasilkan uang, dan Anda akan bahagia adalah kalimat yang mengarah terhadap kesalahpahaman manusia. Penelitian menunjukkan, kebahagiaan berasal dari tujuan hidup, hubungan, dan pertumbuhan pribadi.
Pada 2025, karyawan berkinerja tinggi melaporkan kepuasan mereka ketika mengembangkan minat di luar pekerjaan dan meluangkan waktu untuk orang-orang terkasih. Merasa puas dengan pekerjaan tetap penting, tetapi kebahagiaan sejati berarti membangun kehidupan yang selaras dengan nilai Anda, bukan hanya pekerjaan.
Zaman telah berubah, begitu pula dengan lanskap bisnis, maka Anda perlu meningkatkan kesadaran diri sekaligus memperluas sudut pandang untuk mengimplementasikan work-life balance. Pasalnya, setiap orang memiliki cara tersendiri dalam menjalankan kesimbangan tersebut. Jika demikian, apakah work-life balance masih sebatas angan-angan?


