Burnout tak hanya dialami oleh karyawan, burnout mencari pekerjaan pun juga dirasakan oleh jobseeker. Baik mereka yang berstatus karyawan yang mencari peluang baru maupun fresh graduate.
Pasar tenaga kerja pun “tidak ramah” kepada pencari kerja, mulai dari proses rekrutmen yang panjang, status kepegawaian di bawah outsourcing, pekerjaan freelance tetapi harus masuk setiap hari, tak ada jaminan sosial, hingga pemutusan hubungan kerja (PHK). Bahkan karyawan yang terkena PHK pun kesulitan mencari pekerjaan baru. Tak heran, situasi tersebut membuat jobseeker mengalami burnout. Wajarkah bila seseorang burnout mencari pekerjaan?
Apa Itu Burnout?
Burnout merupakan kondisi kelelahan fisik, mental, dan emosional yang disebabkan oleh stres yang berlebihan dan berkepanjangan. Burnout terjadi ketika seseorang merasa kewalahan, terkuras secara emosional, dan tidak mampu memenuhi tuntutan terus-menerus.
Di lingkungan kerja, seiring tekanan pekerjaan meningkat, seorang karyawan mulai kehilangan minat dan motivasi bekerja. Akibatnya, hal itu menurunkan produktivitas dan menguras energi sehingga ia merasa semakin tak berdaya, putus asa, sinis, dan kesal.
Namun, burnout tidak terjadi dalam semalam, tetapi bisa muncul tiba-tiba. Tanda dan gejala muncul samar pada awalnya, tetapi akan semakin parah seiring waktu. Misalnya, sering sakit kepala atau flu, peralihan kebiasaan tidur, merasa tak berdaya, membutuhkan waktu lebih lama untuk menyelesaikan sesuatu, kehilangan motivasi melakukan apa pun, dan mengisolasi diri dari orang lain. Pada akhirnya, seseorang merasa tidak punya apa-apa lagi untuk diberikan terhadap kehidupannya, termasuk dalam urusan personal dan pekerjaan.
Dampak negatif burnout dapat menyebar ke setiap aspek kehidupan, seperti pekerjaan, rumah, dan kehidupan sosial. Ini juga dapat menyebabkan perubahan jangka panjang pada tubuh yang membuat seseorang rentan terhadap penyakit “sepele” seperti flu dan pilek.
Next: Jobseeker Perlu Tahu, Ini 4 Strategi Perusahaan Menarik Gen Z
Mengapa Seseorang Burnout Saat Mencari Kerja?
Berdasarkan Bureau of Labor Statistics Amerika Serikat (AS), jumlah orang yang menganggur selama 27 minggu atau lebih telah naik hampir dua juta. Peningkatan pengangguran di AS bertambah 385,000 sejak Agustus lalu.
Jen DeLorenzo, career coach dan pendiri The Career Raven, mengatakan bahwa beberapa kliennya merasa putus asa karena pencarian pekerjaan yang terlalu lama dan belum mendapatkannya. Padahal sebelumnya, mereka hanya membutuhkan satu atau dua bulan untuk memperoleh pekerjaan baru. Sekarang, mereka memerlukan enam bulan atau lebih untuk menghadiri beberapa sesi wawancara kerja.
Kondisi seseorang yang tidak memiliki pekerjaan dapat berimbas terhadap kesehatan mentalnya. Jika ia tidak juga memperoleh pekerjaan baru, kondisi itu cenderung membuat seseorang burnout mencari pekerjaan.
“Banyak di antara kita yang mengaitkan harga diri dengan produktivitas, jabatan, dan apa yang kita lakukan. Jadi, ketika kita di-PHK atau hanya mencari pekerjaan secara umum, kita kehilangan rasa identitas diri,” ujar DeLorenzo.
Next: 5 Kebijakan Perusahaan yang Harus Diketahui Kandidat Sebelum Bergabung
Burnout Mencari Pekerjaan? Atasi dengan 2 Kiat Ini
Sebagai makhluk sosial yang berinteraksi dengan banyak orang, kita pernah merasa tak berdaya, terbebani, atau tidak dihargai. Bahkan untuk bangun dari tempat tidur saja, Anda membutuhkan tekad sebesar tenaga Hulk. Jika sering merasakan hal tersebut, kemungkinan Anda mengalami burnout.
Bagaimana saat kita burnout mencari pekerjaan baru? Apa yang harus kita lakukan?
Jeda sejenak
DeLorenzo memahami bahwa pencari kerja cenderung mengecek email setiap pagi, tetapi hal itu justru memicu stress yang tidak perlu. Ia menyarankan ketika jobseeker bangun tidur, jangan langsung membuka email, tetapi bernapas dan jeda sejenak.
“Tanyakan ke diri sendiri, seperti apa kondisi mental Anda saat ini? Bisakah Anda menangani penolakan ketika membuka email atau haruskah melakukan hal lain?”
Langkah itu perlu dilakukan karena seseorang cenderung ingin segera membalas email, padahal Anda tak perlu terburu-buru membalasnya, meski memperoleh undangan untuk wawancara kerja. Pasalnya, Anda harus memastikan kesehatan mental dalam kondisi stabil. Sebaiknya, berjeda dari rutinitas pencarian pekerjaan sangat penting buat Anda.
Fokus pada satu bidang
DeLorenzo juga menyarankan kepada jobseeker agar tidak “membombardir” aplikasi ke berbagai lowongan kerja, karena ini strategi yang kurang baik. Anda harus mengetahui pekerjaan yang tepat bagi diri sendiri sebelum menyelam ke situs pencarian kerja.
Beberapa jobseeker yang burnout mencari pekerjaan cenderung melamar secara massal ke berbagai posisi karena putus asa. Oleh karena itu, Anda perlu membatasi cakupan ke pekerjaan pada bidang tertentu atau keterampilan yang dikuasai agar membantu Anda tetap fokus dan produktivitas.
Meluangkan waktu untuk mengirimkan aplikasi selama satu hingga dua jam per hari sudah cukup bagi jobseeker. Setelah itu, lakukan kegiatan yang menyegarkan diri Anda seperti berolahraga, membaca buku, berjalan santai, atau hal-hal yang menciptakan kegembiraan. Upaya ini bisa mengurangi beban mental Anda
Sebagai referensi, cek pula laman ini untuk mendapatkan informasi peluang baru.


