Tak sedikit pihak yang mengatakan bahwa kehadiran Gen Z dalam proses rekrutmen telah mengubah beberapa hal, salah satunya strategi perekrutan. Pasalnya, mereka membawa serta ekspektasi, nilai, dan pendekatan yang berbeda terhadap pekerjaan. Di sisi lain, mereka pun menghadapi hambatan yang sering kali merasa proses rekrutmen sudah tidak relevan lagi.
Akibatnya, terjadi kesenjangan di tempat kerja, di mana kandidat muda ragu-ragu memasuki dunia profesional, sementara itu hiring manager kesulitan beradaptasi. Meski demikian perusahaan perlu menjembatani kesenjangan tersebut. Bagi pencari kerja Gen Z, saatnya Anda mengetahui strategi mereka dalam proses rekrutmen.
Siapa Itu Gen Z?
Generasi Z merupakan orang yang lahir antara 1996 hingga awal 2010. Kini, kehadiran mereka mendominasi pasar kerja.
Mereka dikenal sebagai generasi yang terhubung secara digital, melek teknologi, dan sangat mengutamakan nilai-nilai pribadi. Namun, hal ini juga memunculkan beberapa tantangan bagi mereka saat mencari pekerjaan.
Dalam survei Resume.org yang dilakukan pada Juni 2025 , lebih dari separuh hiring manager melaporkan bahwa kandidat Gen Z menghilang setelah menerima tawaran kerja dan 66% mengatakan tren ini membuat proses rekrutmen menjadi lebih menantang.
Chief People Officer Justworks Inc. Jeri Doris mengatakan terdapat kesenjangan kepercayaan semakin lebar antara perusahaan dan pencari kerja yang lebih muda. Jika dilihat sebelumnya, tak sedikit karyawan Gen Z yang mengalami ketidakstabilan kondisi pasar kerja. Sebut saja, PHK, “ghost jobs” atau lowongan kerja yang tak pernah terisi, dan rekrutmen algoritmik.
Next: 5 Kebijakan Perusahaan yang Harus Diketahui Kandidat Sebelum Bergabung
4 Strategi Perusahaan Menarik Gen Z dalam Proses Rekrutmen
Tanpa strategi rekrutmen yang relevan dan jelas, perekrut dan hiring manager hanya akan mendapati kandidat Gen Z yang ghosting setelah menerima offering letter atau tidak datang pada hari pertama kerja. Bahkan kondisi ini bisa berangsur-angsur menyurutkan mereka untuk melamar pekerjaan ke perusahaan.
Dari hal tersebut, perusahaan membuat kebijakan terbaik yang ditujukan kepada orang-orang di mana mereka berada, bukan di mana kita menginginkan mereka berada. Sebagai kandidat angkatan kerja terkini, Anda perlu memahami strategi perusahaan untuk menarik Gen Z dalam proses rekrutmen:
1. Prioritaskan hubungan antarmanusia
Menurut Doris, pendekatan antarmanusia mengubah seluruh pengalaman dalam proses rekrutmen. Ya, kandidat Gen Z membutuhkan komunikasi yang membangun kepercayaan sejak hari pertama. Kepercayaan ini sangat penting dalam rekrutmen karena memunculkan candidate experience yang positif.
Misalnya, alih-alih mengatakan, “Kami akan menghubungi Anda kembali,” lebih baik mengubah kalimat menjadi, “Beginilah biasanya kami menangani timeline umpan balik pada rekrutmen, tetapi kami dengan senang hati akan menyesuaikannya yang terbaik untuk Anda.” Frasa tersebut menunjukkan transparansi, dialog, dan memperlakukan kandidat sebagai mitra dalam proses.
Next: Polyworking dan Tantangan Mencari Pekerjaan di Masa Depan
2. Hilangkan stereotipe generasi
Pemimpin perusahaan yang hebat tidak menilai kemampuan seseorang berdasarkan tahun kelahirannya, mereka menilai keterampilan dan kemampuan beradaptasi yang sesungguhnya. Hal ini dapat dilihat bahwa tidak semua generasi baby boomer enggan menggunakan Slack dan tidak semua Gen Z terpaku pada ponsel.
Jadi, perekrut akan menyesuaikan cara berkomunikasi dengan kandidat, bukan berdasarkan generasi tertentu tetapi memberikan pengakuan, rasa hormat, dan pemahaman yang tulus. Pendekatan dengan stereotipe menyebabkan kesalahan dalam pengambilan keputusan selama proses rekrutmen.
Misalnya, hiring manager mengabaikan kandidat yang lebih tua untuk posisi di bidang teknologi. Ia berasumsi bahwa kandidat tersebut tidak bisa beradaptasi dengan perangkat kolaborasi modern. Sementara itu, ia mengabaikan keterampilan komunikasi kandidat Gen Z yang buruk, dengan asumsi bahwa kefasihan digital sama dengan profesionalisme.
3. Menjembatani kesenjangan umpan balik
Doris berpendapat karyawan Gen Z senang memperoleh umpan balik dan transparansi secara langsung, sedangkan sementara generasi yang lebih tua dibesarkan dengan model ‘tidak ada berita berarti kabar baik.’ Ini menandakan bahwa apa yang dianggap baby boomer sebagai otonomi yang terhormat, Gen Z dapat menganggapnya sebagai pengabaian, begitu juga sebaliknya.
Dalam proses rekrutmen, perekrut membutuhkan waktu dua minggu untuk menindaklanjuti proses setelah sesi wawancara. Di sisi kandidat Gen Z, Anda berasumsi perusahaan telah ditolak, maka Anda segera menerima tawaran lain.
Untuk mencegah kesalahpahaman, perekrut perlu menetapkan ekspektasi yang jelas sejak awal. Beri tahu kandidat kapan mereka akan menerima balasan dan tepati komitmen tersebut. Pesan singkat seperti, “Masih dalam peninjauan, akan diperbarui pada hari Jumat,” bisa membuat kandidat tetap terlibat. Di sisi kandidat, Anda dapat bertanya kepada perekrut tentang proses rekrutmen.
Next: Mencari Kerja Di Dalam atau Luar Negeri, Pilih Mana?
4. Menampilkan jalur pertumbuhan
Kandidat Gen Z ingin mengetahui jalur karier mereka sebelum menerima tawaran. Jadi, janji ambigu tentang peluang pertumbuhan tidak lagi cukup. Sebaiknya, perekrut atau hiring manager memberikan kejelasan tentang pengembangan karier dan peningkatan keterampilan, berikan contoh nyata bagaimana karyawan junior telah berkembang secara internal.
Misalnya, ceritakan kepada kandidat tentang Jessica, yang memulai kariernya di tim customer service dan kini ia memimpin tim marketing, sembari menjelaskan perkembangan profesional yang memungkinkan transisi karyawan ke jenjang lebih tinggi atau bidang lain.
Selama wawancara, pewawancara bertanya kepada kandidat tentang tujuan karier mereka dan libatkan mereka untuk menjawab pertanyaan. Percakapan dua arah ini menunjukkan bahwa pewawancara peduli dengan masa depan mereka, bukan hanya memenuhi kebutuhan mendesak. Bila pewawancara tidak membahas tentang aspirasi dan tujuan karier, Anda berhak menanyakan hal tersebut. Langkah ini untuk tantangan pekerjaan serta menerapkan solusi yang tepat.
Sebagai Gen Z, Anda perlu menunjukkan keterampilan berkomunikasi dan beradaptasi kepada perekrut dan hiring manager agar menemukan pekerjaan yang benar-benar sesuai dengan aspirasi Anda. Ingat, proses rekrutmen bukan hanya tentang perusahaan menemukan kandidat yang cocok, tetapi juga tentang kandidat menemukan perusahaan yang cocok.
Sek peluang karier terkini pada laman ini.


