In this economy, mencari pekerjaan sangat menantang pascapandemi. Kemungkinan besar, hal ini akan berlanjut pada 2026, karena perlambatan ekonomi dan kondisi geopolitik.
Berdasarkan data Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker), jumlah pemutusan hubungan kerja (PHK) hingga Juni 2025 mencapai 42.385 orang. Jumal tersebut naik 32% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Mereka yang terkena PHK merasa kesulitan mencari pekerjaan baru. Begitu pula dengan pencari kerja generasi z, mereka tak hanya sulit mendapatkan peluang baru, kalaupun hal itu terjadi, mereka harus bekerja sebagai staf harian.
Bagaimana Kondisi Pencarian Kerja di 2025?
Al Jazeera menuliskan 44 juta orang Indonesia berusia 15–24 tahun atau 16% dari total populasi belum bekerja. Jumlah tersebut dua kali lipat pengangguran di negara tetangga, seperti Thailand dan Vietnam.
Menurut survei yang dipublikasikan oleh ISEAS-Yusof Ishak Institute pada Januari lalu, muda-mudi Indonesia mengekspresikan sikap pesimis terhadap pemerintah dan kondisi ekonomi, dibandingkan anak muda sebaya di Thailand, Malaysia, Singapore, Philippines, dan Vietnam. Hanya sekitar 58% pemuda Indonesia yang mengatakan optimis terhadap rencana ekonomi pemerintah, dibandingkan dengan rata-rata 75% di negara tetangga.
Apa yang menyebabkan kondisi tersebut?
Adinova Fauri, ekonom di Centre for Strategic and International Studies (CSIS), mengatakan faktor penyebab angka pengangguran muda ini Undang-undang Ketenagakerjaan yang kaku sehingga sulit merekrut tenaga kerja, tidak tersedia pekerjaan yang layak secara luas, hingga upah rendah yang tidak mampu menarik tenaga kerja yang terampil.
Akhirnya, banyak di antara mereka memilih berada di luar pasar tenaga kerja atau sektor informal daripada harus bekerja dengan gaji di bawah ekspektasi. Meskipun sektor tersebut tidak memiliki produktivitas dan perlindungan yang kuat.
Sebagai negara dengan ekonomi terbesar di Asia Tenggara, Indonesia sudah lama bergulat dengan angka pengangguran yang tinggi di kalangan anak muda. Bahkan satu dekade lalu, seperempat dari penduduk muda Indonesia diperkirakan tidak memiliki pekerjaan.
Next: 4 Strategi Mengoptimalkan Pencarian Kerja di 2026
Peluang Gen Z Masuki Dunia Kerja Semakin Tipis
Tak hanya di Indonesia, jobseeker Gen Z di Amerika Serikat (AS) pun demikian. Business Insider menjelaskan bahwa New York Federal Reserve melaporkan pasar kerja bagi mereka yang berusia 22–27 tahun dengan gelar sarjana atau lebih tinggi memburuk secara signifikan pada kuartal pertama tahun ini.
Jalur tradisional bagi Gen Z untuk mencari pekerjaan, seperti résumé of internships, kelas-kelas khusus, dan gelar sarjana rasanya tidak menghasilkan tawaran pekerjaan yang stabil. Pasalnya, White House DOGE telah memangkas pendanaan untuk pekerjaan-pekerjaan yang dulu diperebutkan oleh para lulusan generasi sebelumnya di lembaga pemerintah, lembaga nirlaba, laboratorium sains, dan pusat kesehatan masyarakat.
Kehadiran AI dapat mempersulit pencarian pekerjaan pada tingkat pemula di bidang teknologi. Di sisi lain, tak sedikit perusahaan yang melakukan hiring freeze atau PHK, sehingga mereka–dulu white collar–yang terdampak beralih ke pekerjaan blue collar.
Tak hanya Gen Z, milenial pun berjuang untuk memperoleh peluang baru, karena tak sedikit perusahaan big tech maupun usaha kecil berfokus pada pemangkasan manajemen menengah, seperti manajer. Sebagian besar manajer saat ini adalah milenial atau Gen X.
Ironisnya, Gen X adalah generasi pekerja yang terancam di-PHK. Hasilnya, manajer yang tersisa menghadapi beban kerja yang lebih berat, termasuk peningkatan jumlah karyawan.
Next: Mencari Pekerjaan melalui Headhunter, Simak Kiatnya Dulu
Polyworking adalah Solusinya, Benarkah?
Pandemi COVID-19 membuat dunia kerja dan situasi ekonomi berubah, mulai dari work from home, remote working, hingga polyworking. Apa itu polyworking?
Polyworking merupakan kemampuan seseorang melakukan beberapa pekerjaan sekaligus di perusahaan berbeda. Tren karier ini tengah melonjak popularitasnya selama beberapa tahun terakhir, karena membentuk kembali arti membangun karier dalam era ketidakstabilan.
Di AS, tren tersebut tidak terjadi dalam semalam. Hal ini tak hanya dikarenakan pandemi, juga pasar kerja yang bergejolak dan dampak tarif Trump yang bergejolak, sehingga kelompok usia produktif saat ini harus bekerja lebih keras dari sebelumnya. Gen Z menjadi salah satu yang angkatan kerja yang terdampak, karena mereka baru memasuki dunia kerja selama atau setelah pandemi.
Dalam survei Academized, bekerja di tempat yang tidak sesuai aturan dapat menghasilkan tambahan USD12.000 hingga USD45.000 per tahun hanya dengan lima hingga 20 jam kerja tambahan per minggu. Dengan inflasi yang masih berada di kisaran 2,5%, PHK yang meluas, dan gaji yang stagnan akibat penurunan kenaikan upah, pendapatan tambahan semacam itu dapat bersifat transformatif, terutama ketika perusahaan tidak lagi menghargai loyalitas dan tenaga kerja seperti dulu.
Dave Rabin, psikiater dan ahli saraf yang berbasis di San Francisco, mengatakan perusahaan besar maupun kecil menghemat sumber daya dan mengurangi tunjangan demi menjaga keuntungan mereka. Akibatnya, mencari pekerjaan menjadi upaya yang luar biasa rumit, terlebih pekerjaan jarak jauh membuat polyworking lebih mudah diakses dan lebih rahasia
Career coach yang berbasis di New York City Lynn Berger mengamati bahwa klien mereka dapat melakukan beberapa hal dan tidak harus terpaku pada satu hal. Jadi, bagi sebagian orang, motivasi polyworking tak sekadar tentang uang. Kepuasan kreatif, pengembangan keterampilan, dan pertumbuhan intelektual juga berperan di dalamnya.
Apa dampak dari polyworking?
- 26% responden mengatakan pekerjaan mereka berdampak negatif terhadap hubungan pribadi, tak ada waktu untuk menekuni hobi, dan mengalami burnout
Dampak dari burnout antara lain menjadi lebih mudah tersinggung di rumah dan berpisah dari pasangan. Dengan kata lain, itu adalah konsekuensi di luar faktor finansial yang tak dibicarakan dan tak diukur.
- 58% responden menyatakan mereka berencana melanjutkan gaya kerja tersebut dan hampir sepertiganya melihat tak ada kerugian yang ditimbulkan dari polyworking
- 41% responden mengatakan pendapatan ekstra ini mampu mengurangi tekanan finansial, meski terdapat dampak yang “tersembunyi”
Pada akhirnya, polyworking menjadi rekalibrasi dari gambaran pekerjaan modern daripada sekadar tren. Bagi sebagian orang, ini tentang renjana, tetapi bagi yang lain, ini murni soal kebutuhan. Apa pun keputusan mereka, in this economy, satu pekerjaan sering kali tidak cukup sehingga orang-orang mencari pekerjaan yang lebih banyak.
Ikuti informasi tentang peluang baru dan seluk-beluk proses rekrutmen di tautan ini.


