Blog
Recruitment and Selection·

Alasan Pencari Kerja Perlu Memahami Tingkat Turnover dan Faktor yang Memengaruhinya

Tingkat turnover karyawan dapat menjadi indikator penting kondisi perusahaan. Kenali penyebab dan dampaknya agar Anda bekerja di perusahaan yang tepat.
Peoplyee tingkat turnover karyawan

Terkadang, Anda sebagai pencari kerja tidak memikirkan tingkat turnover karyawan di perusahaan tujuan. Ketika mulai bekerja di perusahaan tersebut, Anda akan melihat hilir mudik pergantian karyawan.

Sebagai karyawan baru, Anda bertanya-tanya, “Mengapa hal itu sering terjadi?” tetapi saat bertanya kepada karyawan lama, mereka juga tidak mengatakan alasan sesungguhnya.

Tak jarang, Anda pun merasa, “Apakah ini perusahaan yang tepat buatku? Ada apa dengan manajemen perusahaan ini?” Perasaan tersebut wajar, terlebih sebagai anggota baru telah melihat karyawan resign dan karyawan masuk silih berganti. Namun, yang harus Anda pahami adalah tingkat turnover karyawan dipengaruhi oleh beberapa faktor.

Mengenal Tingkat Turnover Karyawan

Turnover karyawan merupakan kondisi di mana karyawan meninggalkan perusahaan dalam jangka waktu tertentu, yang sering diukur setiap tahun.

Ada lima jenis turnover karyawan, yaitu:

  1. Voluntary turnover: ketika seseorang meninggalkan perusahaan karena memilih bekerja di tempat baru atau alasan pribadi, seperti fokus mengurus keluarga atau pindah ke kota lain
  2. Involuntary turnover: perusahaan memutuskan untuk mengakhiri hubungan kerja dengan karyawan atau disebut dengan PHK
  3. Functional turnover: ini terjadi ketika kepergian karyawan dianggap positif bagi perusahaan, seperti karyawan berkinerja rendah mengundurkan diri
  4. Dysfunctional turnover: ini merujuk pada karyawan berkinerja tinggi atau berharga mengundurkan diri dan berdampak negatif pada perusahaan
  5. Employee attrition: istilah ini kerap digunakan secara bergantian dengan employee turnover, tetapi employee attrition ialah pengurangan karyawan secara bertahap karena sebab alami seperti pensiun atau pengunduran diri, tanpa secara aktif mengganti karyawan tersebut

Tingkat turnover dapat diukur berdasarkan departemen, divisi, tim, kelompok demografis, dan subkategori lainnya di dalam perusahaan.

Next: Siap Hadapi Onboarding Karyawan Baru? Cek 5 Hal Ini

Alasan Pencari Kerja Perlu Memahami Tingkat Turnover

Tak ada yang mewajibkan pencari kerja memahami tingkat turnover, kecuali ia melamar pekerjaan di bidang HR. Anda pun tidak perlu mengetahui persentase turnover karyawan di perusahaan yang dilamar.

Namun, bila melihat lowongan kerja yang sama diunggah oleh suatu perusahaan berulang kali dan/atau menyaksikan karyawan silih berganti masuk dan keluar pada posisi yang sama, Anda menggali informasi lebih dalam tentang hal tersebut sebelum bergabung.

Level turnover tinggi dapat menjadi indikasi bahwa perusahaan tersebut:

  • Tidak memiliki budaya kerja yang suportif atau sistem kerja yang amburadul
  • Tidak menganalisis beban kerja, sehingga karyawan sering menangani pekerjaan tambahan karena rekan tim sering keluar
  • Tidak memberikan onboarding dan training yang memadai kepada karyawan baru

Karyawan resign dengan durasi kerja dalam hitungan bulan bisa berdampak terhadap rekan kerjanya. Hal itu dapat menurunkan semangat kerja orang-orang yang tersisa di tim.

Next: Pahami Job Title Unik Sebelum Mengirimkan Lamaran Kerja

4 Faktor yang Memengaruhi Turnover Karyawan

Di mana pun Anda bekerja, ada karyawan yang masuk dan keluar. Dalam hal karyawan keluar, alasannya pun berbagai macam, seperti pindah ke perusahaan lain, membuka usaha, mengurus keluarga, pindah ke daerah lain, atau pensiun.

Mengapa mereka pindah ke perusahaan lain? Apakah mengejar jabatan, gaji, atau lokasi kerja yang dekat dengan rumah? Apakah perusahaan saat ini tidak bisa memberikan peluang karier, kenaikan gaji, atau fleksibilitas kerja?

Adapun faktor yang memengaruhi tingkat turnover karyawan ialah:

1. Kepuasan kerja rendah

Kepuasan kerja adalah kondisi karyawan yang merasa hangat dan menyenangkan tentang pekerjaan mereka. Misalnya, mereka senang hati datang tepat waktu ke kantor, melakukan tugas kerja, dan/atau merasa aman untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri atau keluarga.

Salah satu studi mencatat bahwa kepuasan kerja yang positif mengurangi turnover karyawan pada setiap generasi dan demografi. Namun, generasi muda membangun kepercayaan lebih lambat, sementara generasi yang lebih tua bersedia menunggu lebih lama untuk melihat apakah keadaan berubah dan kepuasan meningkat.

Jika manajer dapat menjaga kepuasan anggota tim yang lebih muda, mereka cenderung akan tetap bekerja di perusahaan mereka saat ini. Kepuasan karyawan juga dapat ditingkatkan dengan menambah jumlah tenaga kerja, sehingga lebih banyak orang di level yang sama dapat berbagi beban kerja.

2. Kurang memiliki pengembangan karier

Pada 2022, sebuah survei menemukan bahwa 33% orang yang berhenti dari pekerjaannya mengatakan bahwa alasan utama mereka adalah kurang pertumbuhan karier. Sebanyak 30% lainnya yang meninggalkan pekerjaan mengatakan bahwa kurang kesempatan memainkan peran kecil dalam mengambil keputusan.

Dengan kata lain, karyawan ingin memiliki kesempatan bertumbuh, berkembang, dan sukses. Bila mereka merasa stagnan dalam pekerjaan dan tugas, sehingga produktivitas mereka menurun.

Salah satu cara terbaik untuk mendorong karyawan agar tetap bertahan dan berkembang adalah membantu mereka menemukan dan melamar peluang internal. Anda sebagai karyawan pun berhak bertanya mengenai peluang internal yang cocok bagi Anda. Jika peluang tersebut ada, tanyakan apa yang harus Anda lakukan.

3. Masalah work-life balance

Hubstaff mengatakan keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi berperan penting dalam keputusan karyawan untuk tetap bertahan atau meninggalkan pekerjaan mereka. Dari masalah work-life balance, Hubstaff mencatat bahwa:

  • Perusahaan yang menawarkan keseimbangan kerja-hidup yang sehat memiliki tingkat pergantian karyawan 25% lebih rendah
  • 95% profesional HR menyebutkan kehilangan karyawan berkualitas karena burnout dalam kerja
  • 60% karyawan di seluruh dunia melaporkan memiliki work-life balance yang sehat
  • 33% karyawan dengan work-life balance positif berencana untuk tetap berada di pekerjaan mereka saat ini
  • 57% hingga 61% responden mengatakan bahwa work-life balance negatif akan mencegah mereka menerima tawaran pekerjaan
  • 48% karyawan akan meninggalkan pekerjaan, jika pekerjaan tersebut menghalangi mereka untuk menikmati hidup
  • 67% orang mengatakan keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi membaik setelah mereka mulai bekerja dari jarak jauh

4. Pengaruh manajemen dan kepemimpinan

Ada ungkapan bahwa, “Seseorang tidak berhenti dari pekerjaan, tetapi mereka berhenti karena manajer yang buruk.” Ungkapan tersebut akan ada pada benak karyawan, karena sebagian besar memang akurat.

Laporan Frontline Leader Project dari DDI menjabarkan bahwa 57% orang meninggalkan pekerjaan karena manajer atau pemimpin. Alasan mereka pun beragam, tetapi setelah dianalisis, terdapat lima alasan, yakni:

  1. Manajer bersikap kejam, tidak hormat, atau meremehkan
  2. Manajer tidak mengikuti aturan yang sama, terutama yang berhubungan dengan hal administrasi, seperti kapan seseorang dapat mengambil cuti tahunan atau cuti sakit
  3. Kurang memberikan dukungan dan pengakuan terhadap hasil kerja karyawan
  4. Komunikasi yang buruk atau bermusuhan
  5. Manajemen mikro

Kelima alasan tersebut mendorong karyawan untuk mencari tempat kerja lain daripada bertahan bekerja di lingkungan seperti itu. Bagi Anda yang sedang mencari peluang baru, teliti profil perusahaan dan baca ulasan mantan karyawan di situs pencarian kerja. Dapatkan informasi mengenai proses rekrutmen di sini.

Share