Tak ada perusahaan yang bebas dari masalah naik turun tingkat turnover. Ya, pergantian karyawan tidak dapat dihindari. Anda sebagai pencari kerja pun tak bisa tidak mengundurkan diri jika ada perusahaan lain menawarkan posisi dan gaji lebih dari pekerjaan saat ini.
Ketika frekuensi karyawan yang meninggalkan perusahaan menjadi sangat tinggi, mereka akan membutuhkan penggantinya. Bukan tak mungkin, mereka akan membuka lowongan yang sama. Jika demikian, haruskah Anda mengirimkan aplikasi ke mereka atau membaca dulu reviunya, karena tingkat turnover karyawan mencerminkan kesehatan budaya kerja di tempat tersebut.
Apa Itu Turnover Karyawan?
Tingkat turnover merupakan persentase karyawan yang meninggalkan perusahaan dalam periode waktu tertentu–biasanya, dalam hitungan bulanan atau tahunan–dibandingkan dengan rata-rata jumlah total karyawan.
Pergerakan keluar-masuk karyawan menjadi indikator terhadap employee turnover rate. Tingkat turnover bukan sekadar data statistik bagi tim HR, juga cerminan dari kesehatan budaya kerja, stabilitas perusahaan, dan kepuasan kerja karyawan.
Turnover tak terjadi begitu saja, dua hal yang menyumbangkan tingkat pergerakan karyawan ialah:
- Voluntary turnover (sukarela): terjadi ketika karyawan mengundurkan diri secara sadar, misalnya mencari peluang karier yang lebih baik, alasan pribadi, atau pensiun
- Involuntary turnover (tidak sukarela): terjadi saat perusahaan mengambil keputusan untuk memberhentikan karyawan, baik karena efisiensi, pemutusan hubungan kerja (PHK), atau pelanggaran disiplin
Karyawan atau pencari kerja perlu memahami bahwa tingkat turnover tinggi di sebuah divisi sering kali menjadi sinyal masalah pada manajemen atau beban kerja yang berlebihan. Dengan kata lain, karyawan mengalami burnout.
Next: 7 Kiat Menulis CV: Anda yang Melakukan Career Change
Cara Menghitung Tingkat Turnover Karyawan
Perhitungan tingkat turnover dapat dilakukan oleh tim HR dengan menggunakan data akurat. Selain data, tim juga membutuhkan rumus untuk menghitungnya.
Rumus turnover:
(Jumlah Karyawan yang Berhenti ÷ Rata-rata Jumlah Karyawan) × 100
Langkah menghitung:
- Tentukan periode: misalnya menghitung turnover tahunan pada 2025
- Hitung rata-rata karyawan: hitung jumlah karyawan di awal tahun (misal 100 orang) dan jumlah karyawan di akhir tahun (misal 110 orang), lalu rata-ratanya adalah (100 + 110) ÷ 2 = 105
- Jumlah karyawan resign: hitung jumlah karyawan yang meninggalkan perusahaan selama 2025 (misal 15 orang)
- Masukan angka ke dalam rumus: (15 ÷ 105) × 100 = 14,2%
Jadi, tingkat turnover tahunan perusahaan tersebut adalah 14,2%.
Tidak ada angka pasti yang berlaku pada perusahaan, karena setiap industri dan posisi memiliki dinamika berbeda.
Secara umum, tingkat turnover di bawah 10% dianggap sangat baik dan menunjukkan tingkat retensi karyawan yang tinggi. Meskipun ada anggapan bahwa tingkat turnover tahunan di berbagai industri berkisar antara 12% hingga 15%.
Next: 10 Faktor yang Memengaruhi Kesuksesan Total Rewards Package
Di Industri Mana Saja yang Mengalami Pengunduran Diri Karyawan Tertinggi?
Setiap industri memiliki nilai turnover berbeda, begitu pula dengan posisi. Menurut Hubstaff, industri teknologi berada di urutan teratas dalam turnover, lebih dari 13%, sedangkan turnover staf pemerintah negara bagian dan lokal kurang dari 1%.
Di Amerika Serikat (AS), perusahaan akan memperhatikan perusahaan lain dengan karyawan yang banyak bekerja jarak jauh. Mereka mulai dengan wilayah geografis yang memiliki upah tertinggi, lalu melihat tren yang berbeda antara negara bagian satu dan lainnya.
Setelah mereka melihat statistik turnover, ada kemungkinan mereka yang di wilayah dengan upah lebih tinggi akan merebut karyawan dari kompetitor yang bergaji lebih rendah.
Masih menurut Hubstaff, industri yang mengalami tingkat turnover tinggi ialah teknologi, ritel, dan layanan kesehatan (healthcare). Berikut penjelasannya:
1. Industri healthcare
Industri ini mengalami tantangan retensi yang sangat signifikan, terutama pascapandemi. Level turnover mereka sekitar 20% pada 2022, ini menjadi salah satu industri dengan tingkat turnover tertinggi.
Faktor utamanya adalah burnout, baik mental dan fisik, yang ekstrem. Karyawan juga memiliki beban kerja tinggi serta kesulitan rumah sakit atau klinik mempertahankan staf yang memadai untuk memenuhi permintaan layanan medis yang terus meningkat.
2. Industri ritel
Secara historis, ritel selalu menjadi industri dengan perputaran karyawan yang paling fluktuatif dan tinggi. Level turnover mereka rata-rata mencapai 60% atau lebih.
Hal tersebut disebabkan oleh sifat pekerjaan yang bersifat musiman (seasonal work), upah rendah dibandingkan sektor lain, serta banyak pekerja yang menjadikan ritel sebagai pekerjaan sementara atau batu loncatan sebelum menemukan karier di bidang lain.
3. Industri teknologi
Industri teknologi akan menawarkan gaji, tunjangan, dan fasilitas menggiurkan kepada karyawan, tetapi tingkat turnover-nya sekitar 12,9% hingga 13,2%. Angka ini dianggap tinggi untuk kategori pekerjaan profesional.
Faktor pendorongnya bukan karena ketidakpuasan kerja, melainkan permintaan sumber daya manusia (SDM) yang sangat tinggi. Perusahaan teknologi sering kali saling membajak karyawan satu sama lain dengan tawaran gaji dan tunjangan lebih menarik, sehingga mendorong budaya job-hopping di kalangan mereka.
Selain industri, posisi dalam garda terdepan juga mengalami turnover tinggi, seperti posisi sales dan call center. Alasannya, tekanan pekerjaan yang menuntut target tinggi akan menyebabkan seseorang stres dan memicu kejenuhan.
Next: BPJS Ketenagakerjaan: Info Wajib Diketahui Kandidat Sebelum Tanda Tangan Kontrak
Pencari Kerja Harus Peduli dengan Tingkat Turnover Karyawan
Memang, informasi tentang angka turnover karyawan di perusahaan sangat terbatas. Hanya segelintir perusahaan yang berbagi informasi soal level turnover, tetapi kandidat atau pencari kerja harus peduli dengan hal tersebut.
Kenapa? Karena Turnover tinggi sering ditemukan pada perusahaan yang sedang mengalami pertumbuhan cepat atau memiliki budaya kerja beracun. Perusahaan dengan turnover tinggi mengindikasikan:
- Tidak memiliki work-life balance
- Kepemimpinan yang mikromanajemen atau tidak suportif
- Pertumbuhan sangat cepat, tetapi tidak diimbangi dengan manajemen SDM yang mumpuni
Apa saja langkah yang bisa menghindarkan calon karyawan dengan tempat kerja seperti itu?
Pada dasarnya, perusahaan ideal bagi kandidat bisa beraneka ragam. Tak masalah jika Anda ingin menantang diri dengan bekerja di perusahaan yang tumbuh sangat cepat dan tidak mempedulikan work-life balance. Jika sebaliknya, Anda perlu memperhatikan beberapa hal ini:
- Baca job title dan job description secara saksama, apakah tanggung jawab kerja sesuai dengan posisi atau tidak
- Lihat lowongan kerja lain di perusahaan yang sama, perhatikan pola nama posisi dan deskripsi pekerjaan
- Jika Anda sudah melamar pekerjaan dan perekrut menghubungi untuk wawancara tahap awal, tanyakan:
- Apakah perusahaan ingin menambah posisi tersebut atau mencari pengganti?
- Apakah posisi ini bekerja sendiri atau bersama tim?
- Apa harapan perusahaan terhadap posisi tersebut?
- Apa milestone yang ingin mereka raih dalam enam atau 12 bulan ke depan?
Bagi jobseeker, melihat perusahaan yang membuka lowongan kerja menjadi langkah yang penting, karena hal itu bisa memberikan gambaran tentang kualitas lingkungan kerja atau melihat pertumbuhan bisnis perusahaan.
Sebelum melamar pekerjaan, cek informasi di laman ini.


