Kehadiran generasi terkini mengubah lanskap lingkungan kerja, karena norma karyawan Gen Z memengaruhi cara perusahaan bersikap terhadap aset mereka.
Ketika dunia kembali normal pascapandemi, mereka diminta oleh perusahaan untuk kembali bekerja dari kantor. Namun, pemimpin mengkhawatirkan keterlibatan mereka, seperti yang dikatakan oleh CEO JPMorgan Jamie Dimon yang berkomentar bahwa para Zoomer (karyawan Gen Z) tidak muncul. Pengusaha senior asal Inggris Lord Alan Sugar mengatakan hal yang hampir sama dengan Dimon, ia menyebutkan bahwa pekerja muda hanya ingin duduk di rumah.
Di sisi lain, karyawan muda bersedia bekerja dari kantor tetapi mereka dengan membawa beragam hal. Mulai dari bekerja berdampingan dengan artificial intelligence (AI), obrolan kesehatan mental, dan bersikap lebih autentik di tempat kerja.
Siapa Itu Gen Z?
Generation Z, Gen Z, atau Zoomer adalah individu yang lahir dalam kurun 1997 hingga 2021 yang terkenal dengan sebutan digital native, karena mereka hidup di ruang digital sehingga cara mereka berpikir, berperilaku, termasuk memutuskan sesuatu dipengaruhi oleh teknologi.
Sejak pandemi, mereka telah memasuki dunia kerja, sehingga banyak di antara mereka yang menjalani pekerjaan pertama secara jarak jauh di tengah ketidakpastian dan perubahan kondisi yang serba cepat. Oleh sebab itu, tak heran jika mereka memilih proses rekrutmen secara virtual, mulai dari melihat lowongan kerja, mengirimkan aplikasi pekerjaan, menghadiri wawancara kerja secara daring, sampai bekerja jarak jauh atau model kerja hibrida.
Dalam memilih pekerjaan, Gen Z lebih condong bekerja di perusahaan yang mempunyai nilai sama seperti mereka. Sebut saja, perusahaan yang mengutamakan keragaman dan kesetaraan serta peduli kepada masalah sosial dan lingkungan.
Next: Panduan Lengkap Menjadi Career Advisor
4 Norma Karyawan Gen Z di Tempat Kerja
Berdasarkan studi global perusahaan real estat JLL kepada 12.000 karyawan, karyawan muda lebih tertarik pada interaksi tatap muka dan datang ke kantor rata-rata tiga hari seminggu. Bahkan mereka sering kali sendirian ketika datang ke tempat kerja atau dikelilingi oleh rekan kerja seusia. Ini lebih banyak daripada kelompok usia lainnya, karena karyawan senior menghindari datang ke kantor.
“Gen Z sedang membentuk kembali norma di tempat kerja dengan memperkenalkan cara-cara kerja baru yang mencerminkan nilai-nilai mereka, kefasihan digital, dan keinginan untuk menunjukkan autentisitas,” ujar Dan Schawbel, mitra pengelola Workplace Intelligence, kepada CNBC.
Adapun norma-norma karyawan Gen Z ialah:
1. Berjejaring
Profesional senior lebih suka bekerja dari rumah, sehingga hal ini telah mengikis budaya obrolan santai dan bimbingan yang dicari oleh karyawan muda. Jadi, Gen Z semakin bertekad untuk mengisi kekosongan tersebut.
Weirong Li (25), profesional komunikasi lulusan Stern School of Business, New York University, mengatakan ia akan bekerja di kantor lima hari dalam seminggu dan karyawan yang datang ke kantor umumnya seusia dengannya. Rekan kerja seniornya akan bekerja secara hibrida atau jarak jauh. Mereka tak perlu membangun jaringan karena sudah berada di posisi yang sudah membuktikan diri.
Kondisi tersebut mengajarkan kepada Li untuk bersikap bijaksana dalam cara mendekati koleganya, termasuk memanfaatkan peluang virtual maupun tatap muka. Ia menganggap obrolan santai di luar kantor bisa menjadi cukup serius, karena hal itu adalah kesempatan memulai percakapan dan bertemu orang baru.
2. Menunjukkan kepribadian
Karyawan Gen Z tidak segan untuk menunjukkan kepribadian mereka di tempat kerja. Namun, mereka mengaburkan batasan antara pribadi dan profesional, termasuk berpakaian lebih kasual dan pembicaraan “tidak disaring” dalam rapat hingga percakapan sehari-hari.
Mady Lanni (27), manajer PR, mendefinisikan bahwa ia membawa seluruh dirinya ke tempat kerja, seperti berpakaian yang menurutnya nyaman nyaman dan memakai sneakers atau sandal santai. Ia dan rekan kerjanya lebih suka duduk di bean bag atau tempat duduk yang lebih unik, meskipun itu dalam suasana rapat.
Bagi Li, datang ke tempat kerja dengan kepribadian yang autentik merupakan sifat unik dari Gen Z, terlepas dari apakah hal itu sejalan dengan norma perusahaan. Norma karyawan Gen Z, lanjut Li, menunjukkan siapa mereka, apa yang diperjuangkan, misi dan tujuan, mengedepankan transparansi, serta percakapan berbasis nilai yang penting bagi mereka.
Next: Tertarik Menjadi Ahli K3? Ikuti Prosesnya
3. Peduli kesehatan mental
Pakar komunikasi Li mencatat, kaum muda memprioritaskan kesehatan mental, sehingga mereka mampu menyalurkan sisi emosional mereka di tempat kerja. Ia mengatakan teman-teman dan rekan kerjanya sangat menghargai percakapan tentang kondisi mental dan fisik, agar mereka dapat memberikan apresiasi kepada orang lain sesuai konteks di lingkungan kerja.
Memang, terkadang mengaburkan batasan antara sekadar rekan kerja dan teman, tetapi mereka merasa lebih nyaman bekerja karena memiliki nilai yang sama dan saling terhubung. Kondisi ini membuat komunikasi mereka lebih mudah, meski tidak selalu berkomunikasi secara formal.
Di tempat kerja, Gen Z mendesak perusahaan untuk memiliki layanan dan tunjangan kesehatan mental. Implementasinya tak harus rumit, karena perusahaan perlu memiliki kebijakan pengambilan cuti kesehatan mental atau menawarkan layanan konsultasi dengan ahlinya.
4. Berdampingan dengan AI
Mengingat mereka adalah digital native, maka Gen Z siap bekerja berdampingan dengan AI generatif untuk mengakselerasi pekerjaan, baik dari segi waktu maupun kualitas kerja.
Gracie Lissick (25), manajer PR, mengatakan Gen Z dapat menormalkan penggunaan AI di antara tim mereka. Ini menunjukkan ketangkasan mereka menggunakan teknologi dan berpikiran maju. Dengan demikian, mereka lebih memiliki banyak waktu untuk melakukan hal-hal lain di kemudian hari
Schawbel menambahkan banyak pekerja Gen Z menggunakan AI untuk menjembatani kesenjangan dalam pengetahuan, kepercayaan diri, dan dukungan profesional. Mereka menganggap seperti pelatih digital, meski hal itu tidak dapat sepenuhnya menggantikan bimbingan manusia. Namun, mereka sering kali menjadikan AI lebih responsif daripada atasan yang sibuk. AI adalah pelatih pengganti yang andal.
Untuk mengetahui wawasan lain mengenai dunia kerja, kunjungi laman ini.


