Blog
Career Development·

Tertarik Menjadi Ahli K3? Ikuti Prosesnya

Ahli K3 adalah garda terdepan yang memastikan lingkungan kerja aman, produktif, dan sesuai regulasi ketenagakerjaan. Untuk menjadi ahli K3, seseorang harus memiliki sertifikatnya.
Ahli K3 Peoplyee

Ahli K3 adalah garda terdepan yang memastikan lingkungan kerja aman, produktif, dan sesuai regulasi ketenagakerjaan. Untuk menjadi ahli K3, seseorang harus memiliki sertifikat K3.

Untuk memperoleh sertifikasi K3 tidaklah sulit, terlebih jika karyawan telah menaruh perhatian pada keselamatan di lingkungan kerja. Meski demikian proses tersebut sempat terkendala, karena terdapat praktik pemerasan dalam pengurusan sertifikasi K3 yang melibatkan mantan Wakil Menteri Ketenagakerjaan Immanuel Ebenezer. Kasus ini menjadi pengingat betapa penting integritas dan transparansi dalam setiap aspek termasuk K3.

Mengenal Ahli K3

Ahli K3 (keselamatan dan kesehatan kerja) merupakan tenaga teknis berkeahlian khusus dari luar Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) yang ditunjuk oleh Menteri Ketenagakerjaan untuk mengawasi Undang-undang Keselamatan Kerja.

Kehadiran mereka Indonesia memiliki landasan hukum yang tercantum dalam UU 01/1970 tentang Keselamatan Kerja dan Permenaker 02/1992 tentang Tata Cara Penunjukan Ahli Keselamatan dan Kesehatan Kerja.

Seorang ahli K3 tidak hanya dituntut memiliki pengetahuan teknis, tetapi juga harus memahami kerangka hukum yang melingkupi tugasnya, antara lain:

  • Memahami hak dan kewajiban pekerja dan pengusaha
  • Mengetahui sanksi pelanggaran K3
  • Mengerti tentang standar keselamatan yang harus dipenuhi oleh perusahaan
Next: Mengenal K3, Upaya Membuat Lingkungan Kerja Aman

Bagaimana Menjadi Ahli K3?

Seorang ahli K3 harus memiliki kompetensi agar melaksanakan tugas-tugas K3 di perusahaan. Profesi ini sangat dibutuhkan oleh perusahaan yang mempunyai karyawan lebih dari 100 orang dan mempunyai tingkat potensi bahaya tinggi dalam kegiatan operasinya.

Untuk menjadi ahli K3, seseorang harus memiliki sertifikatnya. Pengambilan program sertifikasi K3 harus sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Jadi, manajemen harus menentukan jenis program yang akan diikuti oleh karyawan–calon ahli K3–yakni umum, teknis, atau pengawas.

Adapun tahapan untuk menjadi ahli K3, yaitu:

1. Pendidikan dan pengalaman

Calon ahli K3 harus memiliki latar belakang pendidikan yang relevan–D3, D4, atau S1–dengan pengalaman kerja sesuai bidangnya. Pengalaman ini menjadi penting, karena ahli K3 adalah disiplin ilmu yang membutuhkan pemahaman mendalam tentang risiko di lapangan.

2. Program pelatihan

Calon ahli K3 wajib mengikuti program pelatihan yang diselenggarakan oleh lembaga pelatihan yang ditunjuk oleh Kemnaker. Pelatihan ini akan memberikan berbagai materi, seperti:

  • Dasar-dasar K3: filosofi, undang-undang, dan konsep dasar keselamatan kerja
  • Manajemen risiko: identifikasi, penilaian, dan pengendalian bahaya di tempat kerja
  • Keselamatan kebakaran: penanggulangan kebakaran, penggunaan APAR, dan sistem proteksi
  • K3 listrik dan mesin: prosedur aman dalam bekerja dengan peralatan listrik dan mesin industri
  • Kesehatan kerja: pencegahan penyakit akibat kerja, higiene industri, dan pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K)
  • Analisis studi kasus, praktik lapangan, dan berinteraksi dengan praktisi K3 berpengalaman

3. Uji kompetensi

Setelah menyelesaikan pelatihan, peserta harus mengikuti uji kompetensi yang diselenggarakan oleh Kemnaker. Ujian ini berupa tes tertulis dan presentasi individu. Jika lulus, mereka akan mendapatkan sertifikasi dan surat penunjukan sebagai Ahli K3 Umum. Surat penunjukan tersebut berlaku untuk jangka waktu tertentu dan harus diperbarui secara berkala.

Next: 5 Implementasi Profesionalisme di Dunia Kerja

4. Pembelajaran berkelanjutan

Namun, menjadi ahli K3 bukanlah akhir dari perjalanan karier. Pasalnya, dunia industri terus berkembang dan ini menuntut profesional K3 untuk terus belajar dan beradaptasi. Ahli K3 dapat mengembangkan pengetahuan dan kompetensinya untuk mengikuti program K3 lainnya, seperti:

  • Sertifikasi spesialisasi: mengambil sertifikasi spesialisasi, seperti ahli K3 konstruksi, listrik, atau auditor sistem manajemen K3 (SMK3)
  • Pelatihan teknologi: mempelajari penggunaan teknologi terkini, seperti sensor pintar, drone, atau perangkat lunak analisis data untuk memprediksi dan mencegah kecelakaan
  • Keterampilan nonteknis: mengembangkan keterampilan komunikasi, negosiasi, dan kepemimpinan untuk mengimplementasikan budaya K3 di perusahaan

Upaya ini tak sekadar bermanfaat bagi karyawan K3, tetapi juga menumbuhkan budaya pembelajaran berkelanjutan sehingga ia dan rekan kerjanya bisa tetap relevan dan kompeten di bidang masing-masing.

Ahli K3 adalah salah satu change agent bagi perusahaan, karena ia dan manajemen serta tim HR bertugas melindungi dan menerapkan peraturan tentang keselamatan dan kesehatan kerja agar semua orang yang berada di lingkungan kerja aman. Dengan profesional K3 yang kompeten dan didukung oleh budaya keselamatan yang kuat, Indonesia dapat mewujudkan lingkungan kerja yang lebih aman dan produktif bagi semua.

Kunjungi laman ini untuk menemukan informasi tentang pengembangan karier dan peluang baru.

Share