Bagi sebagian orang, mereka tak memiliki masalah saat berkolaborasi dengan manajer yang kerap menuntut tetapi ia bersedia diajak berkolaborasi. Namun, tak sedikit yang harus menghadapi manajer yang terlalu mengontrol tim dan sulit diajak bekerja sama.
Ironisnya, ia suka sekali mengatur anggota tim tanpa memperhatikan kondisi dan beban kerja mereka. Sebut saja, ia selalu memeriksa seseorang pekerjaan anggota timnya dan semua keputusan harus melalui dirinya. Memang, tak ada yang salah dengan perilaku tersebut, tetapi bila ia tidak mampu mengomunikasikan tujuan perusahaan kepada tim, kondisi itu akan mengikis kinerja karyawan.
Pahami 5 Tipe Gaya Conflict Personality dari Manajer Anda
Perselisihan antara karyawan dan atasan atau manajer tidak bisa terhindarkan di tempat kerja. Kejadian tersebut memberikan pembelajaran kepada kedua belah pihak untuk memahami pola kerja serta sikap masing-masing.
Memang, perselisihan atau perbedaan pendapat adalah hal wajar dalam lingkup profesional, tetapi Anda bisa mengantisipasi kondisi itu. Salah satunya dengan memahami gaya conflict personality Sang Manajer.
Berdasarkan How to Get Along with Anyone: The Playbook for Predicting and Preventing Conflict at Work and at Home karya Jim Guinn dan John Eliot, terdapat lima gaya conflict personality, yaitu:
1. Avoider
Manajer tipe avoider biasanya menghindari konflik dan paling cocok bekerja sendiri. Untuk membangun hubungan kerja yang baik dengan mereka, Anda perlu menghindari pertemuan yang tidak penting dan memperhatikan efisien waktu dalam eksekusi tugas. Jika mereka tak memberikan kabar terbaru tentang pekerjaan, ia harus bertanya progres tugas terlebih dahulu kepada manajer.
2. Competitor
Manajer dengan gaya conflict personality ini mengambil banyak risiko dan dikenal agresif dalam pendekatannya. Saat bekerja dengan manajer seperti ini, Anda harus mematuhi tenggat waktu yang ditetapkan dan menepati janji.
3. Analyzer
Conflict personality ini ketika manajer bertipe analyzer akan memandang dunia melalui berbagai sudut pandang dan berbasis bukti atau data. Mereka juga kerap mengumpulkan banyak informasi sebelum bertindak. Untuk menciptakan alur kerja yang baik bersama mereka, Anda perlu bersikap fleksibel dan tertarik pada proses berpikir mereka.
4. Collaborator
Manajer collaborator memiliki empati, senang terhubung, dan hanya fokus pada tugas. Ini ingin terlibat dalam segala hal, menyelesaikan setiap konflik, control freak (sangat suka mengatur), dan tidak akan mempercayai orang lain. Atasan seperti ini cenderung mengatur secara detail, tetapi tidak secara langsung menyatakan apa yang kebutuhan atau keinginan mereka.
“Mereka tidak akan pernah mengatakan kalau mereka marah pada Anda, tapi kalau Anda tidak melakukan apa yang mereka mau, mereka akan marah,” ujar Guinn. Jadi, saat bekerja dengan collaborator, hargai kebutuhan mereka untuk menjadi bagian dari kelompok dan jangan bersikap bisnis semata.
5. Accommodator
Manajer dengan gaya conflict personality seperti ini akan mengutamakan kesuksesan dan kesejahteraan kelompok di atas kepentingannya sendiri. Ia sangat baik dalam menyemangati rekan satu timnya dan bisa marah jika merasa tidak dihargai. Agar kolaborasi lancar, Anda harus menjadi orang yang dapat diandalkan dan jangan anggap remeh manajer accomodator.
Next: 7 Langkah Menjadi Manajer yang Andal dan Efektif
5 Kiat Menghadapi Manajer yang Terlalu Mengontrol Tim
Melody Wilding, penulis Managing Up: How to Get What You Need From the People in Charge, mengatakan ia telah menyaksikan betapa orang-orang kesulitan menghadapi tantangan bekerja dengan atasan yang gemar mengatur semua pekerjaan anggota timnya, sehingga mereka tidak leluasa menggunakan caranya dalam bekerja.
Profesor human behavior dan pelatih eksekutif yang telah menghabiskan 15 tahun terakhir melatih pemimpin di Google, Amazon, dan perusahaan Fortune 500 lainnya memberikan karyawan beberapa strategi sederhana ketika bekerja sama dengan manajer yang terlalu mengontrol tim dan tidak sabaran.
Strategi di bawah ini bisa Anda gunakan agar berjalan sesuai ekspektasi manajer. Anda pun tidak merasakan frustrasi dan burnout ketika menghadapi mereka. Berikut strateginya:
1. Jalankan draf kasar
Sering kali kita bersusah payah berhari-hari atau berminggu-minggu untuk menyusun draft yang sempurna. Biasanya, draft berisi ide, tujuan, manfaat, studi kasus, langkah menjalankannya, contoh prosesnya, dan prediksi hasil.
Sebagai gantinya, Anda bisa menggunakan draft pertama yang “kasar” dan mengajukannya ke manajer. Minta masukan ke atasan dan diskusikan bersama. Misalnya, Anda mengatakan, “Ini draft kasar, tetapi saya ingin mengungkapkan ide inti dan strukturnya agar kita bisa membentuknya menjadi sesuatu yang luar biasa.”
2. Memperkuat otoritas manajer
Anda perlu memperkuat otoritas manajer atau menekankan bahwa Anda mengetahui posisi yang bersangkutan. Sampaikan ide-ide Anda sebagai pertanyaan, lalu mengajukan pertanyaan dalam percakapan untuk meningkatkan rasa kendali kepada orang lain. Misalnya, Anda mengucapkan, “Kami akan berbagi pendapat agar Anda dapat membuat keputusan akhir” atau “Apa yang telah kami diskusikan akan meminta masukan dari Anda.”
3. Selalu berbagi informasi
Menghadapi manajer yang ingin mengetahui segala progres bisa melelahkan, jika Anda tidak menyiapkan segala materi. Wilding menyarankan Anda untuk selalu berbagi informasi dengan manajer. Misalnya, mengirimkan rincian tugas yang akan Anda selesaikan setiap hari pada saat rapat pagi atau mengulas kembali pekerjaan selama seminggu pada Jumat sore.
Langkah ini terkadang membosankan, tetapi memuaskan keinginan atasan untuk mengetahui kemajuan tugas Anda sekaligus menghemat upaya untuk membenarkan diri sendiri di kemudian hari. Bila ada perubahan, Anda dapat memberitahu manajer dan jelaskan mengapa perubahan tersebut terjadi, jika ada.
4. Hadapi kritik
Jika manajer mengkritik atau memberikan umpan balik konstruktif, Anda perlu mengakuinya. Selanjutnya, Anda bisa menambahkan perspektif sebagai penegasan ide tersebut serta mempertimbangkan umpan balik dari manajer.
5. Minta persetujuan
Cobalah untuk menekankan bahwa persetujuan atau masukan dari manajer adalah hal penting dalam operasional bisnis atau kegiatan. Tekankan bahwa masukan mereka adalah hal penting bagi Anda untuk mengetahui apa yang berjalan dengan baik dan tidak, sehingga Anda bisa memperbaikinya. Dengan hal ini, manajer tak hanya mengajak diskusi, tetapi juga Anda dapat mengembangkan cara berkomunikasi secara efektif.
Tak dipungkiri, menghadapi manajer yang terlalu mengontrol dapat membuat Anda kebingungan. Namun, Anda bisa memahami sudut pandanganya dalam implementasi tugas.
Ini tak hanya menyenangkan manajer, Anda pun mendapatkan ilmu dan pandangan baru darinya. Ikuti pula wawasan tentang dunia kerja di laman ini.


