Perjuangan pencari kerja di Indonesia ada di persimpangan jalan. Indonesia berada dalam tahap negara dengan populasi muda yang besar. Di satu sisi, ini adalah bonus demografi yang menjanjikan potensi pertumbuhan ekonomi yang luar biasa. Di sisi lain, pasar tenaga kerja dihadapkan pada tantangan besar, yakni proses menyerap jutaan angkatan kerja muda, terutama para fresh graduate, ke dalam lapangan kerja yang relevan dan berkelanjutan.
Perjalanan pencari kerja memperoleh peluang baru saat ini jauh lebih kompleks daripada sekadar mencari lowongan. Anda akan “bertarung” melawan ketidaksesuaian kebutuhan keterampilan, persaingan global, hingga tekanan mental yang memicu burnout pencarian kerja.
Pencari Kerja Hadapi Realitas di Negara Sendiri dan Global
Indonesia memiliki tantangan mengenai bonus demografi. Al Jazeera menuliskan bahwa Indonesia memiliki sekitar 44 juta kaum muda, tetapi negara ini masih berjuang keras untuk memberikan mereka pekerjaan yang layak. Tantangan utama bukan hanya menciptakan lapangan kerja, melainkan menyediakan pekerjaan yang sesuai dengan pendidikan dan upah yang memadai.
Ketidaksesuaian antara keterampilan yang diajarkan di institusi pendidikan formal dengan kebutuhan industri atau yang dikenal sebagai ketidakcocokan keterampilan menjadi penghalang besar bagi pencari kerja. Industri membutuhkan keterampilan digital, soft skills yang kuat, dan kemampuan adaptasi yang sering kali tidak dimiliki oleh lulusan baru.
Di sisi lain, perjuangan mencari pekerjaan bukan perkara ekonomi saja, tetapi juga masalah psikologis. Di tingkat global, fenomena burnout mencari pekerjaan menjadi semakin umum. Seperti yang diulas oleh BBC Worklife, pekerja yang menganggur dan sedang mencari pekerjaan baru sering kali merasa kelelahan karena proses aplikasi yang panjang, penolakan yang berulang, dan ketidakpastian finansial.
Di Indonesia, tekanan sosial untuk segera mendapatkan pekerjaan pun semakin bertambah, karena satu posisi diperebutkan oleh banyak kandidat. Akibatnya, hal ini memperparah rasa frustrasi dan kelelahan mental.
Next: Program Jaminan Sosial: Hak dan Manfaat bagi Tenaga Kerja
Apa Tantangan Pencari Kerja Beberapa Tahun Terakhir?
Tantangan pencari kerja bukan hanya pandemi COVID-19. Kondisi pascapandemi dan ketidakstabilan politik dalam maupun luar negeri juga menjadi serangkaian tantangan bagi jobseeker di Indonesia.
1. Persaingan global
Akses informasi yang semakin mudah membuat perusahaan di mana pun mereka berada dapat mempekerjakan karyawan dari seluruh dunia secara jarak jauh. Hal ini menuntut standar profesionalisme, kemampuan komunikasi, dan penguasaan bahasa asing yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang kurang menguasai keterampilan tersebut.
2. Kesenjangan keterampilan
Tantangan bagi fresh graduate selanjutnya adalah ijazah tidak lagi menjadi jaminan, karena perusahaan mencari bukti nyata dari keterampilan teknis maupun nonteknis.
Keterampilan teknis yang diajarkan di bangku kuliah telah diotomatisasi oleh artificial intelligence (AI) dan perangkat lunak, sehingga Anda menguasai alat digital terbaru dan mengasah keterampilan lain. Keterampilan nonteknis pun menjadi krusial, karena pencari kerja memilih kandidat yang memiliki kemampuan beradaptasi, komunikasi efektif, kepemimpinan kolaboratif, dan pemecahan masalah yang kompleks.
3. Jebakan syarat kerja
Fresh graduate sering terjebak dalam dilema klasik, yakni perusahaan membutuhkan kandidat berpengalaman untuk menduduki sebuah pekerjaan, tetapi hal itu tidak bisa didapatkan oleh lulusan baru karena mereka belum memiliki pengalaman sama sekali. Di situs pencarian kerja, tak sedikit lowongan tingkat entry-level yang mensyaratkan minimal satu atau dua tahun pengalaman. Hal ini memaksa fresh graduate untuk berburu program magang yang relevan agar curriculum vitae (CV) mereka memiliki bobot di mata perekrut.
4. Proses rekrutmen semakin berat
Proses rekrutmen sekarang semakin “berat” karena CV disaring oleh applicant tracking system (ATS) sebelum mencapai mata manusia, meski tak semua perusahaan menggunakan sistem tersebut. Jobseeker harus memastikan CV mereka menggunakan kata kunci yang sesuai job description agar lolos saringan ATS. Selain itu, banyak tahapan wawancara dan tes yang sebelum mendapat kepastian memicu kelelahan mental.
Next: Gen Z Libatkan Orang Tua Sebagai Career Advisor
4 Langkah Konkret Menghadapi Pencarian Kerja
Bagi Anda yang masih mencari pekerjaan, cek beragam situs pencarian kerja serta laman job search di laman recruitment agency. Selain itu, Anda juga perlu langkah konkret pada masa pencarian ini, seperti:
1. Asah keterampilan
Untuk menutup ketidakcocokan keterampilan, Anda dapat mengambil beberapa inisiatif. Mulai dari mengikuti kursus daring atau luring yang memberikan sertifikasi di bidang kerja yang dituju sekaligus membuat portofolio atau proyek sukarela untuk menunjukkan keterampilan Anda.
2. Perhatikan kualitas lamaran
Anda perlu berfokus pada kualitas lamaran, bukan kuantitas. Contohnya, memodifikasi CV untuk memasukkan kata kunci spesifik dari job description agar lolos saringan ATS dan melakukan jejaring dengan perekrut, praktisi di bidangnya, dan alumni senior di LinkedIn, lalu menghubungi mereka sekadar bertukar kabar atau informasi.
3. Berlatih wawancara
Memang, Anda belum mendapatkan undangan wawancara kerja, tetapi tidak ada salahnya untuk berlatih dengan menggunakan metode STAR (situation, task, action, result) agar meningkatkan keterampilan komunikasi secara efektif. Jelaskan tentang tugas yang Anda jalani dalam organisasi, kepanitiaan, atau proyek tim untuk menunjukkan kemampuan Anda bekerja dalam lingkungan kolaboratif.
4. Kelola kesehatan mental
Proses mencari kerja itu melelahkan secara fisik serta mental, maka Anda perlu mengelola kesehatan mental dari waktu ke waktu. Supaya proses ini tidak menguras energi, hal-hal yang bisa dilakukan antara lain:
- Tentukan durasi setiap hari untuk mencari dan mengirim lamaran dan indari menghabiskan waktu di depan laptop yang dapat menyebabkan kejenuhan
- Rayakan setiap pencapaian, meskipun itu hanya mendapatkan panggilan wawancara pertama atau menyelesaikan pelatihan daring
- Tetap terhubung dengan teman, keluarga, jejaring, atau sesama jobseeker untuk berbagi pengalaman dan mendapatkan dukungan emosional
Saat ini, perjuangan pencari kerja di Indonesia tidaklah mudah. Anda menghadapi beragam tantangan tak hanya tentang ekonomi tetapi kebijakan pemerintah yang berdampak terhadap pembukaan lapangan pekerjaan.
Namun, jangan menyerah di tengah gelombang ketidakpastian ini. Anda bisa beristirahat sejenak, sebelum mengadopsi mentalitas pembelajar yang tangkas sekaligus berinvestasi pada keterampilan yang diharapkan oleh industri.


