Blog
Career Development·

Gen Z Menganggap Orang Tua sebagai Career Advisor

Generasi Z, yang memasuki dunia kerja dalam lima tahun terakhir, menganggap orang tua sebagai career advisor.
Peoplyee orang tua sebagai career advisor

Generasi Z, yang memasuki dunia kerja dalam lima tahun terakhir, menganggap orang tua sebagai career advisor. Resume Templates mengungkapkan hasil surveinya bahwa Gen Z meminta orang tua untuk menuliskan CV, mengajak orang tua ke sesi interview, hingga orang tua berbicara dengan hiring manager.

Jika dulu orang tua berperan sebagai penunjang pendidikan, sekarang peran mereka bergeser menjadi career advisor atau penasihat karier yang memfasilitasi dan mendukung anak-anaknya.

Gen Z Libatkan Orang Tua Sebagai Career Advisor

Laporan Resume Templates menunjukkan bahwa 77% Gen Z mengatakan mereka pernah membawa orang tua ke wawancara kerja, sekitar 13% selalu melakukannya dan 24% sering mengajak orang tua ke sesi wawancara.

Apa yang dilakukan oleh orang tua saat hadir di lokasi wawancara kerja?

Sebesar 40% Gen Z menyebutkan orang tua duduk saja di lokasi, 34% orang tua ikut menjawab pertanyaan interview, 30% justru mengajukan pertanyaan, dan 27% membantu anak mereka menegosiasikan gaji atau tunjangan. Bahkan sebanyak 23% orang tua memperkenalkan diri mereka kepada hiring manager dan 23% lainnya berbicara hal-hal positif selama wawancara kerja anak mereka.

Di samping itu, orang tua sangat berkontribusi sebagai career advisor generasi Zoomer. Bahkan sebagian besar Gen Z pernah meminta orang tua mereka melamar pekerjaan (63%), mengirim email kepada manajer perekrutan (54%), atau bahkan menelepon mereka secara langsung (53%).

Lebih jauh lagi, 48% meminta orang tua menyelesaikan tugas tes dan 41% membiarkan orang tua menangani panggilan HR pertama. Di sisi Gen Z karyawan pun demikian, tiga dari empat orang telah menjadikan orang tua sebagai referensi soal karier. Delapan dari 10 karyawan Gen Z mengatakan orang tua berkomunikasi dengan manajer mereka.

Apa peran orang tua sebagai career advisor? Orang tua yang menjadi fondasi terkuat yang dimiliki oleh anak akan berupaya maksimal demi keberhasilan buah hati mereka. Mereka tidak hanya membantu anak mendapatkan pekerjaan, juga mengajarkan keterampilan hidup yang esensial, seperti kemandirian, ketahanan, dan kemampuan untuk membuat keputusan yang bijak.

Dalam dunia karier yang tak lagi didefinisikan oleh satu jalur, dukungan dan bimbingan orang tua menjadi lebih berharga dari sebelumnya. Dengan menjadi penasihat yang bijak, orang tua membantu Gen Z menemukan pekerjaan yang tidak hanya memberikan pendapatan, tetapi juga menemukan makna dan kepuasan.

Next: Hal-hal yang Dibutuhkan Gen Z dalam Proses Rekrutmen

Kecemasan Gen Z Memasuki Dunia Kerja

Di saat kondisi pasar kerja semakin kompetitif, Gen Z justru ragu-ragu memasuki dunia korporat dan bergantung pada orang tua mereka sebagai jaring pengaman. Penyebabnya adalah mereka kurang memiliki koneksi profesional dan sosial selama pandemi.

Hal ini menandakan bahwa Gen Z cemas memasuki dunia kerja. Rata-rata Gen Z hanya memiliki 16 hubungan bisnis yang kuat, dibandingkan dengan 21 hubungan untuk milenial dan 40 hubungan untuk Gen X. Ketika koneksi terbatas meluas ke tempat kerja, pekerja Gen Z terus memberikan informasi tersebut kepada orang tua mereka.

Menurut survei Gallup, Gen Z yang dijuluki sebagai digital native menginginkan model kerja hybrid (71%), 6% yang siap bekerja dari kantor, dan 23% bekerja remote. Dibandingkan dengan generasi lain yang menanggapi tentang kerja remote, terdapat milenial, Gen X, dan baby boomer masing-masing 35% yang setuju dengan pengaturan tersebut.

Kebanyakan karyawan sekarang ini mendambakan interaksi tatap muka demi pertumbuhan profesional. Pasalnya, teknologi telah membuat mereka merasa terisolasi dari rekan kerja dan komunitas profesional. Banyak lulusan baru yang merasa terasing dari manajer, perusahaan, serta rekan kerja secara keseluruhan, sementara yang lain kesulitan berbasa-basi.
Next: Mengenal Profesi dan Tugas Seorang Career Advisor

Memang, dunia kerja saat ini sudah banyak berubah dibandingkan saat orang tua kita bekerja. Meski demikian dinamikanya masih sama, maka peran orang tua akan mendorong anaknya untuk melakukan riset, mengikuti magang, atau bergabung dengan komunitas profesional, sekaligus memberikan motivasi saat anak mengalami penolakan.

Ada kalanya, orang tua bersama anak berdiskusi terbuka tentang kemungkinan karier lain, seperti menelusuri tren industri yang menjanjikan dan memahami bahwa jalur karier tidak selalu linier. Bahkan mereka berusaha mendukung pilihan karier anak-anak yang nontradisional.

Pada akhirnya, keputusan ada di tangan anak. Orang tua harus menghormati pilihan mereka, bahkan jika hal itu tidak sesuai dengan ekspektasi awal.


Share