Sektor manufaktur di Indonesia telah lama menjadi salah satu mesin pertumbuhan ekonomi. Sebagai kontributor terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional, sektor manufaktur atau pengolahan tidak hanya menghasilkan nilai tambah produk, juga menjadi penyerap tenaga kerja masif yang menjaga stabilitas sosial dan ekonomi.
Di tengah ketidakpastian geopolitik global yang memengaruhi rantai pasok dan penurunan ekspor, sektor ini masih mencatatkan performa cukup baik. Bahkan terdapat pabrik manufaktur baru tahun ini yang menyerap ribuan tenaga kerja. Cek informasi ini jika Anda ingin berkarier dan mencari tahu panduan gaji di sektor manufaktur.
Performa Sektor Manufaktur di Indonesia dari Waktu ke Waktu
Manufaktur dalam satu dekade
Dalam satu dekade ini, sektor manufaktur telah melewati proses transformasi yang cukup signifikan. Sepuluh tahun ke belakang terdapat pergeseran masif dari ekspor bahan mentah menjadi produk olahan, seperti pembangunan smelter yang mempercepat hilirisasi.
Namun, sektor ini sempat terkontraksi lantaran pandemi COVID-19, meski demikian pelaku bisnis cepat beradaptasi terhadap protokol kesehatan dan digitalisasi rantai pasok. Langkah ini membuat perusahaan manufaktur mampu bertahan dari pandemi.
Pada 2024, kontribusi manufaktur terhadap PDB sempat berfluktuasi di angka 18,98% tetapi pemerintah terus berupaya mendorong reindustrialisasi agar sektor ini kembali menjadi penggerak utama ekonomi dengan target kontribusi di atas 25%.
Kinerja manufaktur setahun terakhir
Sepanjang 2025, sektor manufaktur di Indonesia menunjukkan ketangguhannya di pasar internasional. Bisnis.com menuliskan bahwa nilai ekspor produk manufaktur Indonesia berhasil menembus angka USD227,1 miliar. Pencapaian tersebut menjadi sinyal positif bahwa program hilirisasi industri yang dicanangkan oleh pemerintah membuahkan hasil dalam bentuk produk bernilai tambah tinggi.
Laporan dari CNBC Indonesia, indeks manajer pembelian atau purchasing managers' index (PMI) menggambarkan bahwa manufaktur Indonesia sempat terkoreksi. Alhasil, aktivitas ekspansi sedikit melambat dibandingkan periode sebelumnya.
PMI selama 2025:
- Januari: 51,9
- Februari: 53,6
- Maret: 52,4
- April: 46,7
- Mei: 47,4
- Juni: 46,9
- Juli: 49,2
- Agustus: 51,5
- September: 50,4
- Oktober: 51,2
- November: 53,3
- Desember: 51,2
Angka PMI 50 merupakan titik impas atau netral yang menandai tidak ada perubahan aktivitas bisnis dibandingkan bulan sebelumnya. Jika di atas 50, kegiatan usaha sedang dalam fase ekspansi, sedangkan angka di bawah itu menunjukkan penurunan.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Kamdani menjelaskan bahwa sektor manufaktur di lapangan menghadapi tantangan yang rumit. Mulai dari biaya logistik yang tinggi, birokrasi yang rumit, biaya energi, dan biaya pinjaman suku bunga yang mencapai 8% hingga 12% dibandingkan negara tetangga sekitar 4% sampai 6% saja.
Contoh kontribusi perusahaan manufaktur
Keberhasilan sektor ini tidak lepas dari peran perusahaan yang memiliki rantai produksi luas, menyerap ribuan tenaga kerja, dan meningkatnya aktivitas bisnis. Beberapa contoh perusahaan manufaktur yang berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi adalah subsektor:
- Otomotif dengan basis produksi ekspor kendaraan ke Asia Tenggara dan Timur Tengah, seperti Astra International dan Hyundai
- Makanan dan minuman memproduksi barang konsumen (FMCG) yang diekspor ke pasar global, seperti PT Indofood CBP Sukses Makmur dan PT Mayora Indah
- Logam dan hilirisasi mengolah mineral dan nikel untuk kebutuhan industri baja dan baterai, contohnya, PT Vale Indonesia, Antam, dan Inalum
- Petrokimia menyediakan bahan baku plastik dan kimia untuk berbagai industri hilir, misalnya yang dilakukan oleh PT Chandra Asri Petrochemical
- Elektronik mengembangkan produk elektronik rumah tangga dan solusi energi digital, seperti Polytron dan Schneider Electric Indonesia
Next: Daftar Gaji Manajer di Indonesia: Dari Industri Manufaktur hingga Logistik
Tantangan dan Masa Depan Sektor Manufaktur
Hambatan menghadang manufaktur
Tantangan yang dihadapi oleh sektor manufaktur saat ini tidak hanya berjuang melawan persaingan global, juga hambatan yang datang dari dalam negeri.
1. Biaya produksi tinggi
Biaya produksi sangat berkaitan dengan harga bahan baku, sebut saja harga gas industri dan energi jauh lebih tinggi dibandingkan negara tetangga. Belum lagi, persoalan bahan baku lain yang harus didatangkan dari negara lain justru menghadapi kebijakan pembatasan impor, seperti kuota atau larangan terbatas. Bila perusahaan ingin memperoleh bahan baku dari dalam negeri pun mereka kesulitan untuk mendapatkannya. Hal ini berimbas terhadap biaya produksi dan harga jual yang belum kompetitif.
2. Tumpang tindih regulasi
Regulasi atau kebijakan antara kementerian satu dan lainnya tidak selaras, sehingga terjadi tumpang tindih ketika pelaku usaha mengajukan izin yang berhubungan dengan kegiatan bisnis. Bahkan antara kementerian mengeluarkan aturan yang saling bertabrakan. Tentu, hal ini menghambat operasional yang melibatkan dana dan waktu.
3. Ketidakpastian hukum
Perubahan regulasi yang terlalu cepat, seperti revisi berulang pada aturan impor, membuat investor ragu untuk menanamkan modal jangka panjang. Selain itu, ketidakpastian hukum yang berhubungan dengan keamanan atau ketertiban hingga gangguan dari ormas menjadi tantangan bagi pelaku usaha manufaktur.
4. Deindustrialisasi dini
Sektor manufaktur di Indonesia mengalami gejala deindustrialisasi dini. Mengapa demikian? Karena kontribusinya terhadap ekonomi nasional terus melandai, di mana kinerja pertumbuhan industri tekstil, pakaian, dan alas kaki melemah karena produk impor murah. Kondisi ini memunculkan sinyal waspada deindustrialisasi sebelum sebuah negara menjadi maju.
Masa depan sektor pengolahan
Pada 2025, sektor pengolahan berkontribusi sebesar 19,07% terhadap pertumbuhan ekonomi. Angka tersebut naik sebesar 5,30% dibandingkan tahun sebelumnya. Bila menargetkan manufaktur berkontribusi kepada PDB sebesar 28% saat Indonesia Emas 2024, maka pemerintah memerlukan upaya ekstra keras.
Indonesia jangan hanya berfokus terhadap ketidakpastian pasar global dan pengolahan ekstraktif yang memanfaatkan sumber daya alam (SDA) saja. Namun, pemerintah perlu membenahi hal-hal internal, yakni:
1. Sinkronisasi regulasi
Ini dilakukan di tingkat pusat maupun daerah serta antara lembaga dan/atau kementerian. Pemerintah perlu menyelaraskan aturan tidak ada regulasi yang mematikan dan tumpang tindih satu sama lain. Proses sinkronisasi regulasi perlu dipercepat sehingga bisa dilakukan penguatan implementasinya.
2. Perlindungan industri dalam negeri
Pemerintah perlu melindungi pasar domestik dari serbuan barang impor ilegal atau barang murah yang tidak memenuhi standar (SNI), tetapi tetap menjaga iklim kompetisi yang sehat. Terlebih dengan jumlah penduduk yang besar, konsumsi produk makanan, minuman, dan farmasi akan menjadi pilar stabilitas manufaktur saat permintaan global fluktuatif.
3. Permudah bahan baku
Langkah ini mempermudah akses industri terhadap bahan baku yang sangat dibutuhkan untuk ekspor agar rantai produksi tidak terputus. Jika bahan baku tersebut harus didatangkan dari negara lain, pemerintah perlu memberikan relaksasi bahan baku impor guna menjaga produksi sektor pengolahan.
4. Transformasi hijau
Tuntutan pasar internasional akan memaksa manufaktur Indonesia untuk beralih ke energi bersih dan proses produksi yang ramah lingkungan atau sustainable manufacturing. Ini termasuk investasi pada manufaktur berbasis ekosistem kendaraan listrik untuk pasar domestik dan global.
5. Adopsi teknologi
Jika regulasi dan birokrasi semakin efisien dan terdapat perlindungan hukum kepada pelaku usaha, maka perusahaan akan lebih berani berinvestasi pada otomatisasi dan adopsi teknologi untuk meningkatkan produk atau layanan agar dapat bersaing dengan negara tetangga.
6. Perkuat dialog bipartit
Pemerintah harus lebih sering duduk bersama pelaku usaha untuk mendengar kendala riil di lapangan sebelum merancang kebijakan, termasuk pemberian insentif fiskal dan nonfiskal, seperti tax allowance dan menjamin ketersediaan infrastruktur dan energi murah.
Untuk menjadikan mesin penggerak ekonomi nasional, sektor manufaktur sangat bergantung pada kebijakan pemerintah, sehingga sumbatan yang menghalangi kegiatan sektor ini perlu segera diselesaikan agar menjadi Indonesia Emas pada 2045. Bila hal tersebut diabaikan, kegiatan manufaktur akan tersandung oleh kaki sendiri alias regulasi yang tidak diatasi atau diatasi setengah hati.
Next: Cek, Daftar Gaji Karyawan Junior di 10 Industri Ini
Berapa Gaji di Sektor Pengolahan? Cek di Sini Daftar Gajinya
Mengingat sektor pengolahan adalah salah satu tulang punggung pertumbuhan ekonomi negara, maka mereka membutuhkan beragam posisi dari level junior hingga senior, dari sumber daya manusia yang baru saja lulus sampai dengan level manajerial.
Berikut ini daftar gaji karyawan di sektor manufaktur berdasarkan Peoplyee Salary Guideline 2026:
- Accounting atau finance: junior Rp6 juta, supervisor Rp11 juta, manajer Rp20 juta
- Human resources: junior Rp6 juta, supervisor Rp10 juta, manajer Rp19 juta
- Sales dan marketing: junior Rp6 juta, supervisor Rp11 juta, manajer Rp20 juta
- Production: junior Rp6 juta, supervisor Rp10 juta, manajer Rp17 juta
- Engineer: junior Rp7 juta, supervisor Rp10 juta, manajer Rp16 juta
- Interpreter atau translator: junior Rp7 juta, supervisor Rp9 juta, manajer Rp16 juta
- Supply chain: junior Rp6 juta, supervisor Rp10 juta, manajer Rp18 juta
Seseorang yang mengawali karier di sektor ini akan memegang peran di level junior. Jika ia tetap berada pada industri dan perannya diimbangi dengan peningkatan keterampilan dan pengetahuan terhadap bisnis tersebut, maka ia dapat menduduki posisi manajerial.
Bagi tim HR yang membutuhkan SDM berpengalaman di sektor manufaktur sekaligus mengefisienkan proses rekrutmen, diskusikan kebutuhan Anda dengan recruitment advisor melalui tautan ini.


