Bonus tahunan didefinisikan sebagai kompensasi variabel yang dialokasikan oleh perusahaan kepada karyawan. Komponen ini menjadi salah satu elemen dari total package rewards, selain tunjangan, program kesejahteraan, dan pengembangan karier.
Pada umumnya, bonus tahunan didistribusikan satu kali dalam setahun, bertepatan dengan akhir tahun kalender atau setelah penutupan tahun fiskal perusahaan. Biasanya, tim finansial memproses bonus dengan cara mentransfer dana tunai ke rekening karyawan.
2 Tantangan Pemberian Bonus Karyawan
Program pemberian bonus tak hanya bermanfaat bagi karyawan, perusahaan pun mendulang nilai positif dari usaha itu. Sebut saja, pemberian bonus memperbaiki kesetaraan gaji, employee engagement, kepuasan karyawan, hingga upaya retensi karyawan terampil. Namun, kondisi ini juga memiliki tantangannya, yaitu:
1. Efektivitas
Uang mungkin bukan motivator yang kuat bagi semua karyawan. Jika karyawan lebih termotivasi oleh keterlibatan tim atau peluang kepemimpinan daripada uang tunai, maka bonus uang tunai tidak selalu efektif bagi mereka.
Lebih lanjut, struktur bonus berdasarkan faktor eksternal, seperti laba tahunan perusahaan, cenderung menghasilkan imbal hasil yang tidak konsisten bagi karyawan. Mereka mungkin mendapatkan bonus tunai yang sangat besar pada tahun ini, tetapi tidak mendapatkan di tahun berikutnya. Kondisi tersebut sering kali menimbulkan frustrasi dan kekecewaan.
2. Pemotongan pajak
Mengingat bonus adalah bagian dari pendapatan, maka penerimaannya diikuti oleh pemotongan pajak penghasilan atau PPh 21. Tentu, kondisi itu akan mengurangi jumlah uang yang diterima oleh karyawan. Peraturan pajak tertulis dalam UU Nomor 7 Tahun 2021 tentang Harmonisasi Peraturan Perpajakan.
Next: Haruskah Perusahaan Memberikan Bonus Tahunan? Ini Jawabannya
3 Implementasi Bonus Tahunan yang perlu Diketahui oleh Karyawan
Menjalankan pemberian bonus tahunan memerlukan strategi yang terstruktur. Sekilas, hal ini terdengar rumit, tetapi bukan hal mustahil untuk dilakukan oleh perusahaan. Ada beberapa langkah implementasi yang perlu diketahui oleh tim HR maupun karyawan, sehingga kedua belah pihak memiliki bekal informasi memadai untuk merespons pemberian bonus.
Langkah 1: Periksa bonus dari kompetitor
Bonus dapat menjadi bagian penting dari total packages rewards, terutama dalam hal bonus tahunan, bonus retensi, dan bonus profit sharing. Pada umumnya, perusahaan membandingkan penawaran bonus mereka dengan pemberian bonus yang dilakukan oleh kompetitor, mengecek tren ketenagakerjaan, khususnya pemberian bonus di industri sama, dan/atau meninjau survei gaji untuk memahami kisaran bonus secara umum.
Dari hal tersebut, mereka akan membandingkan tingkat bonus dan paket kompensasi. Dengan demikian, mereka dapat menyesuaikan besaran bonus tahunan agar tetap kompetitif.
Menurut laporan Gusto, lebih sedikit karyawan yang menerima bonus pada 2024. Namun, sektor seperti komunikasi, teknologi, dan layanan profesional mengalami pertumbuhan bonus di atas rata-rata dibandingkan dengan bonus yang menurun atau tetap di sektor seperti layanan pribadi dan transportasi.
Langkah 2: Sesuaikan bonus dengan tujuan perusahaan
Program bonus dapat memperkuat nilai dan tujuan perusahaan. Jika kolaborasi dan kerja sama tim adalah nilai dari perusahaan, maka tim HR akan merancang bonus berbasis tim. Bila meningkatkan pendapatan merupakan prioritas utama, maka perusahaan harus menerapkan struktur komisi atau berbasis kinerja.
Jadi, perusahaan dapat menghubungkan bonus dengan key performance indicators (KPI) yang mencerminkan pencapaian jangka pendek dan pertumbuhan bisnis jangka panjang. Penyelarasan tersebut memastikan setiap pembayaran bonus sejalan dengan nilai yang sedang diupayakan oleh karyawan.
Next: Sejarah THR, Peraturan, serta Sanksinya
Langkah 3: Pelajari hal yang memotivasi karyawan
Pemberian bonus juga bisa berdasarkan hal-hal yang memotivasi karyawan guna mendorong kinerja mereka. Yang pada akhirnya, upaya itu meningkatkan produktivitas perusahaan. Untuk memahami jenis insentif apa yang paling memotivasi karyawan, perusahaan dapat melakukan survei tentang elemen kompensasi.
Misalnya, jika lebih banyak karyawan yang memprioritaskan paid time off atau penambahan cuti berbayar, maka program bonus nontunai akan lebih cocok daripada program bonus profit sharing.
Namun, bila hampir seluruh karyawan menginginkan bonus tahunan berdasarkan pencapaian target, maka perusahaan harus membuat mekanisme tersebut. Jika karyawan lebih mengutamakan fleksibilitas dan work-life balance daripada uang, pertimbangkan insentif model kerja hibrida seperti cuti berbayar tambahan atau tunjangan belajar, alih-alih bonus uang.
Jadi, Anda yang sedang dalam proses negosiasi gaji, tak ada salahnya untuk memastikan pemberian bonus tahunan, besaran, dan mekanismenya. Ikuti informasi terkini tentang bidang rekrutmen di laman ini.


