Blog
Career Development·

8 Tantangan Bekerja sebagai Karyawan Baru

Pada bulan pertama berstatus sebagai karyawan baru, Anda akan menghadapi beberapa tantangan yang berhubungan dengan cara dan alur kerja serta interaksi dengan rekan setim.
Peoplyee karyawan baru dan tantangannya

Mendapatkan pekerjaan baru, berarti Anda menjadi karyawan baru di suatu organisasi. Memang, kondisi ini membuat Anda bahagia sekaligus tegang dan cemas, karena Anda akan menghadapi sesuatu yang belum pernah dialami sebelumnya.

Terkadang, di antara Anda akan berandai-andai jika kinerja tidak sesuai harapan, rekan setim tidak bisa diajak kerja sama, atau manajer tidak suportif. Wajar, jika Anda merasakan hal itu. Namun, percayalah setiap masalah ada jalan keluarnya selama seseorang belajar dan berusaha.

8 Tantangan Pada Bulan Pertama bagi Karyawan Baru

Pada bulan pertama berstatus sebagai karyawan baru, Anda akan menghadapi beberapa tantangan yang berhubungan dengan cara dan alur kerja serta interaksi dengan rekan setim. Ini bukan menggambarkan Anda tidak bisa bekerja–Anda bisa menyelesaikan pekerjaan sesuai tenggat waktu dan sesuai harapan atasan–tetapi ada beberapa hal yang perlu penyesuaian diri.

1. Terlalu banyak informasi

Salah satu aspek tersulit memulai pekerjaan baru adalah harus cepat beradaptasi dengan anggota tim lainnya, terutama jika Anda menggantikan posisi seseorang. Sering kali, karyawan baru langsung dibombardir dengan segudang informasi dan detail. Ketika manajer atau rekan kerja memberikan kesempatan pada Anda untuk bertanya, Anda tidak memilikinya karena belum mengerjakan tugas. Dalam kondisi ini, Anda perlu mencatat informasi baru yang berkaitan dengan pekerjaan.

2. Melakukan pekerjaan “kasar” atau tidak melakukannya sama sekali

Beberapa karyawan baru menghadapi beban kerja yang berlebihan, tetapi yang sebaliknya. Jika manajer atau rekan kerja memiliki jadwal yang sangat padat di minggu pertama bekerja, kemungkinan besar Anda akan mengerjakan beberapa tugas kasar yang tidak terlalu berkaitan dengan pekerjaan.

Jika Anda merasa belum cukup banyak pekerjaan yang harus dilakukan, jangan ragu untuk berinisiatif dan meminta pekerjaan ke manajer. Walaupun semua orang terlalu sibuk untuk memberikan tugas, cobalah belajar sesuatu dan temukan cara untuk tetap produktif yang berkaitan dengan peran baru. Bermalas-malasan dan menganggur bisa berdampak buruk pada Anda.

Next: 12 Panduan Hari Pertama Kerja Bagi Karyawan Baru

3. Bertemu rekan kerja baru

Jika ada rekan kerja yang mendatangi Anda untuk memperkenalkan diri mereka pada minggu pertama, sambut dan lanjutkan percakapan bersama mereka. Untuk lebih mengingat nama dan wajah mereka, Anda bisa langsung menyimpan nomor telepon serta tambahkan nama divisi atau tim. Hal ini akan membantu ingatan Anda dan mengajukan pertanyaan jika berhubungan dengan pekerjaan.

Beberapa perusahaan akan mengumumkan karyawan yang baru mulai bekerja. Jika Anda diminta memberikan informasi tentang latar belakang, hal itu bisa menjadi cara yang bagus untuk memberi tahu rekan kerja baru tentang diri Anda. Seseorang dengan minat yang sama akan menghubungi Anda untuk membangun koneksi.

4. Mempelajari dinamika tim

Sebagai karyawan baru, Anda bertanggung jawab untuk mempelajari gaya komunikasi dan pola kerja tim dan atasan, agar Anda dapat menemukan tempat yang tepat dalam dinamika tim.

Kerrigan mencatat bahwa memahami kepribadian dan motivasi tim menjadi tantangan pada masa awal, tetapi ini untuk membangun hubungan baik sejak pertemuan pertama dengan mereka dan memberikan kesan positif. Jika upaya ini terkesan sedikit merepotkan, ingat, Anda tidak akan memiliki hubungan yang sama persis dengan atasan dan anggota tim baru seperti di pekerjaan sebelumnya.

5. Menyesuaikan diri dengan budaya perusahaan

Kebanyakan karyawan baru mendapatkan gambaran umum tentang budaya perusahaan selama sesi wawancara kerja. Namun, mendengar dari perekrut dan menjadi bagian darinya adalah dua hal yang berbeda. Jadi, Anda perlu menyesuaikan diri dengan budaya perusahaan agar menjadi bagian dari tempat baru tersebut.

Sebagai karyawan baru, Anda perlu aktif dan terlibat dalam urusan pekerjaan, acara sosial, plus kegiatan employee engagement di kantor. Rekan kerja akan menghargai antusiasme Anda untuk menjadi bagian dari perusahaan. Perusahaan pun juga harus berperan serta membantu anggota baru agar ia merasa diterima, dilibatkan, dan terlibat sejak awal kerja.

Misalnya, tim HR memiliki program onboarding karyawan baru agar mereka lebih mengenal orang-orang yang ada di perusahaan dan manajer harus mempunyai strategi yang mendorong karyawan baru dan lama berkolaborasi. Langkah ini menciptakan tanggung jawab dan pencapaian ketika tugas diselesaikan oleh anggota baru.

Next: 101 Masa Probation Bagi Karyawan Baru

6. Mengamati sebelum berpartisipasi

Ketika seseorang bersemangat dengan pekerjaan baru, wajar saja jika ia ingin segera menyumbangkan ide. Memang, berpartisipasi sejak awal menunjukkan bahwa Anda tertarik berkolaborasi dengan rekan kerja dan membantu perusahaan.

Di tempat kerja, ada karyawan yang sudah lama bekerja cenderung tidak menyukai karyawan baru yang merasa paling tahu segalanya meskipun baru saja memulai, termasuk berapi-api dalam memberikan ide. Tak heran jika ada batas tipis antara menyumbangkan ide dengan kesombongan.

“Tujuan setiap karyawan baru adalah langsung terjun ke peran baru mereka dan mulai memberikan nilai tambah, dan itu luar biasa. Namun, tanpa pengetahuan dasar tentang prosedur, norma, dan dinamika tim perusahaan, upaya ini bisa disalahartikan. Proses semua informasi baru sebelum merekomendasikan alternatif untuk prosedur yang ada,” ujar Cheryl Kerrigan, Chief People Officer di BlueCat.

Hal serupa juga disampaikan oleh pendiri dan CEO Happyly Caitlin Iseler, yang mengatakan bahwa karyawan dengan kepribadian yang sangat dominan harus mempertahankan dominasi itu selama minggu pertama mereka, terutama jika memiliki posisi manajerial. Namun, pemimpin terbaik datang dengan penuh rasa hormat, mengamati lingkungan kerja saat ini, dan bagaimana perusahaan telah berhasil sebelum mereka direkrut.

Prosedur kerja yang berlaku di perusahaan sudah ada karena suatu alasan, maka Anda perlu meluangkan waktu untuk menyerap lingkungan sebelum membuat perubahan. Sebisa mungkin, kedatangan Anda jangan seperti senapan yang langsung dioperasikan, dar-der-dor.

7. Mengetahui dress code

Apakah Anda sudah mengetahui dress code di kantor? Jika belum, bertanyalah kepada tim HR, perekrut, atau manajer. Sebagai anggota baru, Anda tidak bisa begitu saja datang ke tempat kerja baru dengan celana jin dan kaus. Sebaiknya, pertimbangan dress code dan berbusana business casual. Ini juga berlaku bagi Anda yang bekerja jarak jauh.

8. Menjaga work-life balance

Ada kalanya, seseorang membandingkan tempat kerja sebelumnya dan saat ini. Misalnya, Anda memiliki work-life balance di perusahaan A, tetapi di perusahaan B tidak karena pola kerja di tempat tersebut membuat Anda bekerja hingga larut malam meski mendapatkan uang lebur.

Awalnya, Anda akan kesulitan beradaptasi, tetapi ini dapat membiasakan diri Anda bekerja dengan pola baru. Jika tidak bisa, sampaikan kepada atasan atau manajer tentang kekhawatiran Anda dan temukan solusi bersama. Anda pun perlu memahami konsekuensi dan menjalani pola kerja baru. Bila tidak bisa mewujudkan work-life balance versi Anda, lihat nilai pertumbuhan dan pembelajaran yang ditawarkan di perusahaan tersebut.

Kerrigan menyarankan bagi karyawan baru untuk mengetahui apa yang diharapkan oleh manajer pada minggu pertama. Pastikan Anda membuat daftar periksa mingguan dan bulanan, lalu cek secara berkala. Kunjungi tautan ini untuk memperoleh informasi tentang peluang baru.

Share