Blog
Career Development·

Job Characteristics Model: Cara Menilai Pekerjaan Mendukung Pertumbuhan Karier

Job characteristics model (JCM) merupakan teori yang menjelaskan hubungan antara karakteristik pekerjaan dan motivasi karyawan.
Peoplyee job characteristics model

Ringkasan artikel

  • Job Characteristics Model adalah adalah teori yang menjelaskan hubungan antara desain pekerjaan dengan motivasi kerja
  • Lima elemen utama dalam model ini dapat membantu perusahaan menciptakan pekerjaan yang lebih bermakna bagi karyawan
  • Kandidat dapat menggunakan konsep ini untuk mengevaluasi apakah suatu pekerjaan sesuai dengan tujuan karier dan pengembangan dirinya

Job characteristics model (JCM) merupakan teori yang menjelaskan hubungan antara karakteristik pekerjaan dan motivasi karyawan. Pekerjaan yang menarik dan menantang cenderung meningkatkan motivasi, sedangkan pekerjaan yang monoton dapat menurunkannya.

Namun, ini tak hanya berlaku kepada mereka yang telah bekerja. Anda yang sedang mencari pekerjaan pun menggunakan job characteristics model dalam menilai apakah sebuah pekerjaan dapat mendukung pertumbuhan karier.

Apa Itu Job Characteristics Model?

Teori yang dikembangkan oleh psikolog Richard Hackman dan Greg Oldham pada 1975 ini mencari tahu mengapa karyawan kehilangan minat pada pekerjaan mereka. Mereka mempelajari orang-orang dan pekerjaannya serta menghasilkan model universal yang masih relevan lebih dari 40 tahun kemudian.

Perusahaan yang menggunakan job characteristics model bertujuan untuk menyesuaikan dan menugaskan pekerjaan yang dapat memotivasi dan melibatkan karyawan lebih baik. Hasilnya, JCM dapat meningkatkan kepuasan kerja dan kualitas hidup karyawan, yang mengarah pada peningkatan hasil bisnis.

Manfaat menerapkan JCM antara lain:

  1. Menciptakan keterlibatan lebih tinggi antara karyawan dan pekerjaan mereka
  2. Peningkatan produktivitas karena karyawan lebih bahagia dan berkinerja lebih baik
  3. Penurunan angka absensi, karena karyawan yang termotivasi terhadap pekerjaan dan menantikan kesempatan untuk meningkatkan diri
  4. Peningkatan kualitas kerja, karena perusahaan menanamkan signifikansi dan identitas tugas
  5. Kepuasan terhadap lingkungan kerja, sehingga menurunkan tingkat turnover

JCM memiliki lima karakteristik, yakni skill variety, task identity, task significance, autonomy, dan feedback. Karakteristik masing-masing dapat disesuaikan untuk mengalibrasi ulang suatu pekerjaan sehingga menjadi lebih menarik bagi karyawan.

Next: Perbedaan Motivasi Diri Intrinsik dan Ekstrinsik Untuk Meningkatkan Produktivitas

5 Karakteristik Job Characteristics Model yang Perlu Dipahami oleh Pencari Kerja

Sebelum mengirimkan CV, Anda menilai apakah lowongan pekerjaan (loker) sesuai dengan pertumbuhan karier atau pekerjaan akan membantu Anda mengembangkan keterampilan.

Berikut ini lima karakteristik pekerjaan yang diidentifikasi oleh teori JCM:

1. Skill variety

Skill variety atau keragaman keterampilan yang digunakan oleh karyawan untuk menyelesaikan tugas mereka. Pekerjaan yang menggunakan skill variety memungkinkan karyawan dapat mengembangkan keterampilan lain, sehingga membuat mereka tetap terlibat dan tertarik terhadap tugas yang dikerjakan.

Apa artinya bagi pencari kerja?

Bagi pencari kerja, karakteristik ini dapat digunakan untuk menilai apakah suatu posisi menawarkan kesempatan untuk mengembangkan satu atau beberapa keterampilan. Bila loker menuliskan beberapa keterampilan, seperti analisis data, komunikasi dengan klien, dan project management, Anda dapat menilai tingkat skill variety-nya berdasarkan keragaman tugas dan keterampilan yang digunakan.

Gunakan skor 1–5 berfungsi sebagai penilaian subjektif berdasarkan tingkat keragaman keterampilan, tanggung jawab, dan pengalaman yang kemungkinan akan digunakan dalam pekerjaan. Skor juga bukan ukuran ilmiah atau penilaian resmi JCM.

Di dunia kerja, peran expense claims administrator memiliki tugas membosankan dan berulang, seperti memasukkan dan mendokumentasikan data. Sebaliknya, client service agent menghadapi beragam permintaan pelanggan, mulai dari kesulitan teknis, masalah pembayaran, hingga pelatihan produk.

Pencari kerja yang menginginkan tantangan dapat lebih banyak keterampilan. Caranya, memilih peran dengan tingkat skill variety yang tinggi.

2. Task identity

Task identity atau identitas tugas mengacu pada karyawan yang mengambil kepemilikan dan menyelesaikan tugas secara menyeluruh. Ia tidak mengerjakan sebagian proyek atau menyerahkan tugas lebih kecil kepada rekan kerja.

Bagaimana menyikapi karakteristik ini sebagai kandidat?

Anda dapat mencari tahu lebih lanjut mengenai bertanggung jawab di loker, di sesi wawancara kerja, atau bertanya kepada ahlinya. Cek, apakah peran itu memiliki tanggung jawab terhadap sebuah proses yang lebih lengkap, proyek apa saja yang akan Anda kerjakan, lalu bagaimana skala proyek tersebut.

Identitas tugas akan memberdayakan karyawan untuk melihat dampak pekerjaan dan hasilnya. Misalnya, hasil kerja membuat mereka lebih termotivasi atau semakin terlibat dengan pekerjaannya.

3. Task significance

Task significance atau signifikansi tugas adalah dampak terukur yang dimiliki suatu pekerjaan atau tugas terhadap orang lain, organisasi, atau masyarakat. Mereka yang menyelesaikan tugas signifikan serta bermanfaat bagi pihak lain akan memiliki cara pandang yang positif.

Untuk membantu Anda memahami task significance terhadap pertumbuhan karier mendatang, tanyakan hal ini kepada diri sendiri sembari membaca job description secara saksama:

  • Bagaimana peran saya berkontribusi terhadap perusahaan?
  • Apakah tugas saya bisa mengefisienkan alur kerja?
  • Siapakah yang menggunakan hasil kerja saya?
  • Apakah tugas ini membantu perusahaan mengambil keputusan tepat?

Bila jawaban semuanya adalah YA, maka kemungkinan Anda menganggap itu adalah pekerjaan dengan karakteristik bermakna. Kondisi tersebut akan membuat Anda berkinerja lebih baik dan puas terhadap pekerjaan.

4. Autonomy

Autonomy mengacu pada tingkat kendali dan kebebasan yang dirasakan oleh karyawan atas pekerjaan. Karyawan yang merasa diberdayakan dengan otonomi cenderung bersifat mandiri dan bertanggung jawab dalam menjalankan tugas.

Dalam wawancara kerja, kandidat dapat mengetahui otonomi dengan bertanya, “Seberapa besar kebebasan yang saya miliki untuk menentukan cara menyelesaikan tugas?” atau “Apakah saya memiliki ruang untuk mengambil keputusan?”

Tujuan dari pertanyaan itu agar Anda mengetahui seberapa besar otonomi Anda dalam mengembangkan makna terhadap pekerjaan dan merasa lebih terlibat di tempat kerja.

5. Feedback

Memberikan feedback yang berharga kepada karyawan dapat membantu mereka memahami kekuatan dan mengidentifikasi area kelemahan yang dapat diperbaiki. Hal itu membantu karyawan mendapatkan kepercayaan diri dan motivasi untuk menjadi lebih baik dalam pekerjaan.

Sebagai kandidat, Anda perlu mencari tahu proses memperoleh umpan balik, seperti:

  • Bagaimana mekanisme performance review?
  • Seberapa sering mendapatkan umpan balik?
  • Siapa yang memberikan feedback?
  • Bagaimana target kinerja ditentukan?

Komunikasi umpan balik secara teratur antara pemimpin dan anggota tim dapat memperkuat hubungan kerja sekaligus meningkatkan produktivitas.

Untuk memudahkan kandidat menilai job characteristics model, Anda bisa membuat penilaian sederhana seperti ini:

  1. Skill variety: Apakah pekerjaan ini membantu saya mengembangkan berbagai keterampilan? (1–5)
  2. Task identity: Apakah saya dapat melihat hasil pekerjaan secara utuh? (1–5)
  3. Task significance: Siapa yang mendapatkan manfaat dari pekerjaan ini? (1–5)
  4. Autonomy: Seberapa besar otonomi yang saya miliki untuk mengambil keputusan? (1–5)
  5. Feedback: Bagaimana saya mengetahui bahwa kinerja saya sudah baik atau perlu diperbaiki? (1–5)

Tidak ada pekerjaan yang harus memiliki skor tinggi pada semua karakteristik tersebut. Anda dapat menggunakan JCM untuk memahami pengalaman kerja yang mungkin akan didapatkan melalui loker. Ini bukan satu-satunya cara untuk menentukan sebuah lowongan layak diterima atau tidak.

Next: 4 Strategi Menjawab Pertanyaan Interview “Kapan Anda Menunjukkan Kepemimpinan?”

Peoplyee Insight

Career Advisor (CA) Peoplyee menemukan bahwa ekspektasi kandidat tidak hanya berkaitan dengan gaji dan tunjangan (compensation and benefits). Seorang CA yang menangani 800 sesi wawancara melihat banyak kandidat mempertimbangkan tanggung jawab pekerjaan, struktur dan alur kerja, kesempatan belajar dan berkembang, budaya kerja, serta sistem umpan balik yang diberikan oleh atasan.

Faktor-faktor tersebut sejalan dengan prinsip Job Characteristics Model, yang menjelaskan bahwa desain pekerjaan berperan penting dalam membangun motivasi dan kepuasan kerja. Dengan memahami aspek tersebut sejak proses rekrutmen, kandidat dapat memilih pekerjaan yang lebih sesuai dengan tujuan pengembangan karier jangka panjang.

Sejak 2013, Peoplyee telah membangun database yang berisi lebih dari 500.000 profesional dari berbagai latar belakang, pengalaman, dan keterampilan. Dengan akses terhadap kandidat yang luas, kami menghadirkan peluang bagi profesional untuk mengembangkan karier sesuai kebutuhan industri. Temukan peluang kerja yang sesuai dengan profil dan tujuan karier Anda bersama Peoplyee.

5 Tip Menerapkan Job Characteristics Model Dalam Pekerjaan Sehari-hari

Untuk mengurangi kebosanan dan mendongkrak produktivitas, perusahaan akan mendorong karyawan pada semua level untuk menerapkan job characteristics model. Berikut tip penerapan JCM yang bisa Anda terapkan pada pekerjaan sehari-hari:

1. Mendelegasikan tugas pada berbagai tingkatan

Manajer dapat menerapkan JCM dengan cara mendelegasikan lebih banyak tugas di berbagai tingkatan untuk meningkatkan tanggung jawab anggota timnya. Langkah itu membantu karyawan untuk lebih bertanggung jawab dan berdaya. Ada kemungkinan mereka menganggap diri mereka sebagai staf junior dengan senioritas lebih rendah

Ketika merasa memiliki tanggung jawab lebih besar, Anda mereka termotivasi dan bangga terhadap pekerjaan dan tugasnya. Peningkatan tingkat keterlibatan ini membantu Anda merasa dihargai dan dipercaya atas kontribusi, sehingga menciptakan lingkungan kerja yang sehat dan berkinerja tinggi.

2. Ganti pekerjaan dan tugas

Untuk membantu karyawan tetap termotivasi saat melakukan pekerjaan yang berulang atau membosankan, manajer dapat mengubah tugas dalam suatu pekerjaan. Hal ini menciptakan lebih banyak variasi keterampilan yang melibatkan karyawan dan menantang mereka untuk menggunakan keterampilan yang berbeda dalam menyelesaikan pekerjaan. Variasi tugas membuat pekerjaan lebih memuaskan dan bermakna, terutama jika karyawan dapat menunjukkan dampak kontribusi mereka terhadap perusahaan secara keseluruhan.

3. Memperkuat kerja tim

JCM dapat memperkuat kerja sama tim di berbagai tingkatan, karena ini menciptakan identitas tugas yang lebih besar sehingga Anda dan rekan kerja merasa lebih bertanggung jawab menyelesaikan tugas yang diberikan dari awal hingga akhir. Langkah tersebut membantu Anda memahami peran dalam tim dan merasakan dampak nyata pekerjaan terhadap anggota tim lainnya.

4. Memberikan umpan balik

Umpan balik konstruktif berbentuk tinjauan kinerja dapat memotivasi karyawan untuk berbuat lebih baik dan meningkatkan pekerjaan mereka. Dari upaya itu, karyawan dapat merefleksikan diri dan menetapkan rencana tindakan berikutnya. Tim HR juga dapat menyertakan struktur penghargaan atau insentif bersama dengan umpan balik terperinci dalam tinjauan kinerja. Tindakan kecil ini mendorong karyawan untuk menetapkan tujuan guna meningkatkan kinerja mereka dan meningkatkan kepuasan kerja.

5. Mendorong rotasi karyawan

Rotasi karyawan secara berkala–melalui tim atau departemen berbeda–dapat memberi mereka pengalaman baru dan menarik. Ketika dirotasi ke departemen lain, maka Anda akan menangani tugas yang bervariasi, sehingga hal itu membantu untuk mempelajari keterampilan baru, membangun hubungan dengan kolega baru, serta merasa lebih terlibat.

Bagaimana jika Anda menerima pekerjaan di luar tanggung jawab? Apakah mengerjakan tugas di luar tanggung jawab selalu baik bagi pertumbuhan karier? Tidak selalu.

Menerima tugas di luar job description dapat memberikan kesempatan untuk mempelajari keterampilan baru, memperluas pengalaman, dan memahami pekerjaan di luar tanggung jawab utama. Namun, tugas tambahan tidak otomatis menjadi peluang pengembangan karier.

Anda dapat menilai pemberian tugas itu menggunakan JCM, walaupun ini bukan alat untuk memprediksi karier seseorang akan tumbuh melalui pemberian promosi. Ini adalah model yang membantu pencari kerja menilai apakah sebuah pekerjaan menawarkan karakteristik yang berpotensi memperkaya pengalaman, keterampilan, tanggung jawab, dan pembelajaran kerja

Untuk mencari wawasan tentang karier, cek informasi tentang dunia kerja di laman ini.

Share