Blog
Career Development·

Mendapatkan Pekerjaan Bergaji Tinggi Tak Harus dari Lulusan STEM

Hampir semua pekerja ingin mendapatkan pekerjaan bergaji tinggi. Salah satu berkuliah di jurusan STEM agar memperoleh gaji tinggi, padahal tidak selalu demikian.
Peoplyee pekerjaan bergaji tinggi

Ringkasan artikel

  • Jurusan kuliah dapat memengaruhi peluang dan penghasilan di awal karier, tetapi tidak selalu menentukan perkembangan profesional jangka panjang
  • Kesuksesan karier dipengaruhi oleh kemampuan seseorang dalam beradaptasi, mengembangkan kompetensi, dan memanfaatkan pengalaman untuk membuka peluang baru
  • Perencanaan karier sejak masa pendidikan dapat membantu seseorang menciptakan perjalanan karier yang berkelanjutan

Hampir semua pekerja bercita-cita mendapatkan pekerjaan bergaji tinggi. Untuk mewujudkan hal itu, tak sedikit orang tua yang mendorong anak-anak mereka kuliah di jurusan yang dapat memperoleh gaji tinggi pada awal karier.

Bahkan dorongan tersebut adalah patokan yang dikejar oleh banyak orang tua. Ironisnya, kondisi tersebut membuat mahasiswa stres dengan pendidikannya. Apakah pendidikan di perguruan tinggi selalu menghasilkan gaji tinggi?

Fenomena Karyawan Bergaji Tinggi Tidak Selalu Selaras dengan Jurusan Pendidikan

Rasheem Rooke, Assistant Vice President of Scholarships and Programs di United Negro College Fund, menyatakan bahwa jurusan kuliah di perguruan tinggi tidak selalu memberikan seseorang gaji tinggi.

Ia mengatakan hal demikian setelah 25 tahun berkecimpung di pendidikan tinggi dan bertemu ribuan mahasiswa yang sukses dalam kuliah serta karier. Menurutnya, mahasiswa dari berbagai jurusan yang berbeda dapat mencapai posisi profesional yang sama.

Lulusan ilmu humaniora dan komunikasi mampu menyamai rekan-rekan mereka di jurusan bisnis plus science, technology, engineering, and mathematics (STEM). Bahkan mahasiswa di jurusan “praktis” mencapai titik stagnasi lebih cepat dari yang diharapkan.

“Berkali-kali saya mengatakan kepada mahasiswa dan orang tua mereka bahwa yang terpenting adalah bagaimana Anda menggunakan waktu di perguruan tinggi, bukan jurusan itu sendiri,” tulis Rooke dalam laman CNBC.

Next: 3 Kiat Menjawab Pertanyaan Interview “Mengapa Kami Harus Menerima Anda?”

Peoplyee Insight

Sebagai recruitment agency yang mempertemukan ribuan kandidat dengan perusahaan sejak 2013, Peoplyee melihat bahwa fresh graduate atau kandidat tidak hanya mengejar penghasilan tinggi pada awal karier. Anda perlu mempertimbangkan apakah perusahaan memberikan ruang untuk belajar, mengembangkan kompetensi, serta memperoleh pengalaman yang relevan dengan tujuan karier Anda.

Bagi karyawan yang sudah memasuki dunia kerja, prinsip yang sama tetap berlaku. Karier dapat berkembang ketika seseorang terus meningkatkan kemampuan dan menerapkan pengalaman dari satu pekerjaan ke peluang berikutnya. Misalnya, keterampilan yang dapat digunakan di berbagai situasi atau pengalaman memimpin atau menyelesaikan masalah.

Pada akhirnya, membangun karier bukan melulu tentang gaji atau jurusan pendidikan,, tetapi bagaimana ia memanfaatkan setiap tahap untuk terus bertumbuh dan menciptakan peluang berikutnya.

Next: 6 Langkah Menjalankan Career Change bagi Anda yang Ingin Ubah Arah Karier

4 Faktor Kesuksesan Jangka Panjang pada Pekerjaan Bergaji Tinggi

Senada dengan hasil penelitian Burning Glass Institute, meski beberapa jurusan mengarahkan individu untuk mendapatkan pekerjaan bergaji tinggi saat awal bekerja, tetapi perbedaan tersebut tidak tetap. Pasalnya, banyak lulusan di luar bidang teknik mampu menutup kesenjangan tersebut dalam waktu satu dekade.

Memang, pekerjaan pertama itu penting bagi perjalanan karier fresh graduate. Namun, kesuksesan jangka panjang cenderung berasal dari empat faktor, yaitu:

1. Memilih jurusan yang sesuai

Sebagai individu, kita perlu memiliki renjana terhadap suatu bidang. Dalam hal pendidikan tinggi, ada mahasiswa yang menyukai jurusan kuliahnya tetapi kesulitan mengerjakan tugas-tugasnya atau tidak mampu melihat manfaat aplikasi ilmunya setelah lulus.

Ia mempunyai semangat, tetapi tidak memiliki keselarasan atau kemampuan menyelaraskan antara pendidikan dengan karier. Padahal keselarasan memaksa mahasiswa untuk melihat masa depan lebih jauh lagi, seperti apa yang mereka minati, apa keterampilan yang mereka kuasai, dan di mana menemukan peluang dengan kedua hal tersebut.

Penelitian Foundation for Research on Equal Opportunity menunjukkan bahwa hasil belajar mahasiswa sangat beragam, meski dalam jurusan yang sama. Hal itu karena jurusan tidak menentukan hasil akhir. Mereka yang lebih terencana dalam menghubungkan jurusan mereka dengan peluang berdasarkan menarik cenderung lebih unggul, dibandingkan mereka yang tidak memiliki rencana.

2. Gaji versus adaptasi

Semua keterampilan berharga, tetapi seseorang dengan keterampilan beradaptasi cenderung berkembang dari waktu ke waktu. Bagi mereka yang tidak mudah beradaptasi akan mendapati dirinya stagnan.

“Saya telah melihat hal ini terjadi berulang kali. Mahasiswa yang memulai dengan gaji sederhana, seperti jurusan komunikasi, ilmu politik, dan sastra Inggris, kemudian menjadi eksekutif, pengusaha, dan pemimpin. Sepuluh atau 15 tahun kemudian, tempat mereka memulai hampir tidak penting lagi,” jelas penulis Thriving in College: 10 Real World Lessons for College Success.

Rooke tak menyangkal bahwa mendapatkan pekerjaan bergaji tinggi pada awal karier masih dianggap sebagai matriks utama, meskipun anggapan itu salah. Beberapa gelar, terutama gelar teknik, memang menghasilkan gaji awal yang tinggi, tetapi yang terjadi setelahnya jauh lebih sulit diprediksi.

Inside Higher Ed mencatat lulusan dengan keterampilan yang mudah beradaptasi sering kali terus berkembang, sementara yang lain stagnan. Dalam jangka panjang, keterampilan mudah beradaptasi jauh lebih penting dibandingkan gaji tinggi pada awal karier.

3. Transferable skills memperluas karier

Technical skills dapat membuka pintu karier, tetapi tidak menentukan seberapa jauh seseorang akan melangkah. Karyawan yang terus maju cenderung membangun transferable skills, seperti komunikasi, kepemimpinan, pemecahan masalah, dan pengambilan keputusan di bawah tekanan.

Rooke menceritakan tiga mahasiswa bimbingannya di Universitas Howard. Mereka dari jurusan yang berbeda, tetapi semuanya memimpin komite acara reuni kampus berskala besar dan paling kompleks di Amerika Serikat. Setelah lulus, ketiganya membangun karier yang sukses dan bergaji tinggi di bidang event planning and management, bekerja untuk jenama besar, dan meluncurkan bisnis mereka sendiri.

Dari cerita tersebut, kita bisa melihat bahwa individu dengan jurusan berbeda, tetapi memiliki hasil sama. Yang perlu kita cermati bukan pada jurusan kuliahnya, tetapi mereka mengembangkan transferable skills di mana pun mereka berada.

4. Mengembangkan jaringan yang kuat

Berprestasi di kelas kuliah saja tidak cukup. Berbicara tentang karier masa depan, seseorang harus harus mengembangkan transferable skills sekaligus berjejaring sejak di bangku kuliah.

Misalnya, mahasiswa mengasah keterampilan kepemimpinan, organisasi mahasiswa, keterlibatan kampus, serta ikut ambil bagian dalam proyek strategis. Langkah ini bukan kesadar meningkatkan keterampilan, juga mengembangkan jaringan profesional yang kuat, sehingga mereka dapat menggunakannya dalam kemajuan karier di masa mendatang.

“Saya telah menyaksikan mahasiswa yang aktif membangun karier di bidang media, bisnis, seni, dan kewirausahaan.”

Dalam banyak kasus, bagaimana mereka menghabiskan waktu di tempat kuliah akan lebih penting daripada pekerjaan pertama mereka setelah lulus. Alhasil, kondisi tersebut tak hanya membuat seseorang mendapatkan pekerjaan bergaji tinggi, tetapi membentuk jaringan kuat yang dapat membuat karier mereka berjalan berkelanjutan.

Anda setuju? Bagi Anda yang memerlukan wawasan karier lebih lanjut, klik laman ini.

Share