Tantangan reskilling dan upskilling tak hanya datang dari perusahaan maupun karyawan. Hal ini juga dapat berasal dari perkembangan teknologi yang banyak mengubah cara kerja dalam lima tahun terakhir. Keterampilan yang relevan hari ini mungkin tidak akan dibutuhkan lagi di tahun depan. Alhasil, perusahaan bersama dengan karyawan perlu memiliki solusi untuk merespons tantangan yang menghadang mereka.
Ruang Lingkup Reskilling dan Upskilling
Dalam laman AIHR, pelatihan ulang (reskilling) merupakan pembelajaran keterampilan baru untuk peran yang sama sekali berbeda, sementara itu, peningkatan keterampilan (upskilling) ialah pembelajaran keterampilan baru untuk meningkatkan kemampuan dalam pekerjaan yang sama atau mengemban tanggung jawab baru.
Keduanya menjadi langkah krusial bagi karyawan, karena tempat kerja perlu beradaptasi dengan perubahan teknologi, yang berupa otomatisasi, penerapan sistem digital, dan model bisnis baru. Individu yang mendalami pengembangan keterampilan ini dapat memiliki lebih banyak peluang serta meningkatkan kepercayaan diri guna memajukan karier.
Namun, langkah ini bukan milik karyawan saja, karena perusahaan pun dapat mendukung upaya tenaga kerja guna:
- Mengatasi skill gap, antara keterampilan yang dibutuhkan oleh perusahaan terhadap keterampilan karyawan
- Mengidentifikasi karyawan berkinerja tinggi dan mempromosikan internal mobility sehingga meningkatkan retensi
- Memastikan karyawan mampu beradaptasi dengan perubahan bisnis, sehingga mendukung tujuan bisnis yang berkesinambungan
Next: 6 Kiat Terapkan Profesionalisme di Tempat Kerja
Apa Saja Tantangan Reskilling dan Upskilling di Dunia Kerja?
Karyawan
Bagi karyawan, keputusan untuk melakukan reskilling atau upskilling sering kali berhadapan dengan hambatan psikologis, finansial, dan waktu, yaitu:
1. Rasa tidak nyaman
Banyak karyawan diliputi rasa tidak nyaman, seperti cemas dan ragu-ragu, terhadap kemampuan mereka untuk mempelajari hal baru. Mereka juga takut mengalami kegagalan sehingga berimbas pada ketakutan akan kehilangan pekerjaan.
2. Keterbatasan waktu
Baik reskilling maupun upskilling membutuhkan waktu cukup yang tidak sebentar. Ketika karyawan seharian bekerja, lalu mereka harus belajar lagi setelah jam kerja, kondisi ini membuat mereka kelelahan. Bagaimana dengan mengalokasikan waktu di luar jam kerja? Jelas, ini adalah pilihan terbaik, meskipun proses tersebut akan menjadi tantangan berat, terlebih bagi mereka yang memiliki tanggung jawab keluarga.
3. Keterbatasan dana
Mengikuti kursus daring, program sertifikasi, atau pelatihan profesional membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Tidak semua karyawan memiliki sumber daya finansial untuk berinvestasi pada pendidikan mereka sendiri.
4. Kurang bimbingan
Tak sedikit karyawan yang bingung harus memulai proses ini dari mana. Mereka tidak tahu keterampilan apa yang paling dibutuhkan di masa depan atau bagaimana cara terbaik untuk memperolehnya.
Perusahaan
Reskilling dan upskilling bukan hanya tugas individu, melainkan juga investasi besar bagi perusahaan. Biasanya, tantangan yang dihadapi oleh perusahaan antara lain:
1. Identifikasi skill gap
Perusahaan sering kesulitan untuk mengidentifikasi keterampilan apa yang dibutuhkan di masa depan serta memastikan inisiatif pembelajaran sesuai dengan prioritas bisnis. Tanpa data yang jelas, investasi dalam pelatihan bisa menjadi tidak efektif.
2. Budaya dan pemimpin tak mendukung
Jika perusahaan tidak memiliki budaya belajar yang kuat, inisiatif reskilling akan gagal. Terlebih, jika pemimpin tidak memprioritaskan reskilling dan upskilling dalam agenda besarnya, karena khawatir karyawan akan pindah ke perusahaan lain setelah mendapatkan program pelatihan. Karyawan mungkin tidak merasa termotivasi atau tidak didukung untuk menghabiskan waktu mereka pada pelatihan.
3. Keterbatasan sumber daya
Mengembangkan atau membeli program pelatihan yang efektif membutuhkan biaya yang besar. Banyak perusahaan, terutama UMKM, tidak memiliki anggaran yang cukup untuk inisiatif ini. Selain itu, tim learning and development (L&D) yang kurang mampu mengukur return on investment (ROI) juga akan menghambat pertumbuhan karyawan.
4. Perubahan terlalu cepat
Perkembangan teknologi yang bergerak cepat, terkadang membuat tim L&D harus selalu memperbarui konten pelatihan. Hal ini dapat membebani staf dengan materi yang tidak relevan atau bahan pembelajaran yang berulang.
Next: Pilih Reskilling atau Upskilling? Agar dapat Kembangkan Karier di Tengah Perubahan
Contoh Implementasi Reskilling dan Upskilling
Beberapa contoh implementasi reskilling dan upskilling yang dapat dilakukan oleh karyawan maupun perusahaan.
Reskilling
1. Pekerja pabrik sebagai koordinator logistik
Perusahaan manufaktur ingin mempertahankan karyawan berpengalamannya, maka manajemen memutuskan untuk mengisi peran logistik dari divisi operasional atau pekerja pabrik. Karyawan tersebut dilatih menggunakan perangkat inventaris digital untuk beralih ke peran sebagai koordinator logistik. Dalam peran baru itu, ia akan mengelola pengiriman, sistem rantai pasokan, dan perangkat lunak pergudangan.
2. Customer support agent menjadi analis data
Seorang customer support agent dengan keterampilan problem solving yang kuat mengikuti pelatihan data. Ia mempelajari Excel, SQL, dan Tableau, kemudian bergabung dengan tim business development, sehingga ia dapat mendemonstrasikan materi pelatihannya.
3. Travel agent menjalani bidang cybersecurity
Sebuah perusahaan perjalanan berkolaborasi dengan perusahaan teknologi nirlaba untuk meningkatkan keterampilan karyawan mereka yang kehilangan pekerjaan dalam bidang cybersecurity. Setelah mempelajari CompTIA dan Security+, mereka bekerja sebagai analis cybersecurity dan beralih ke industri yang lebih diminati.
4. Pekerja ritel menjadi software developer
Setelah bekerja di industri ritel selama beberapa waktu, seorang staf ritel mendaftarkan diri ke pelatihan coding, yang disediakan oleh perusahaan tempatnya bekerja. Setelah menyelesaikan program tersebut, ia bergabung dengan tim teknologi perusahaan sebagai junior software developer. Program ini menunjukkan bagaimana karyawan garda terdepan dapat bertransisi ke peran digital.
Upskilling
1. Marketing specialist belajar menggunakan SEO tools
Seorang marketing specialist meningkatkan keterampilannya dengan mempelajari cara menggunakan SEO tools seperti SEMrush, Ahrefs, dan Google Search Console. Setelah mendapatkan sertifikasi, ia akan mengoptimalkan konten dan melakukan riset kata kunci untuk meningkatkan peringkat pencarian perusahaan. Jika kinerjanya menonjol, perusahaan akan mempertimbangkannya untuk peran digital marketing manager.
2. Recruiter mempelajari analisis data
Recruiter ingin melakukan upskilling analisis data, maka ia mempelajari Excel, Power BI, dan fitur pelaporan ATS secara mendalam. Ia mempelajari cara melacak waktu rekrutmen, sumber perekrutan, dan KPI yang membantu perusahaan membuat keputusan rekrutmen yang berbasis data. Hal ini mendukung karier recruiter di masa depan sebagai HRBP atau di bidang talent analytics.
3. Sales representative berlatih otomatisasi CRM
Tim sales meningkatkan keterampilan anggotanya dalam fitur CRM seperti alur kerja otomatisasi, penilaian prospek, dan pembuatan urutan email. Hasilnya, tim mengurangi waktu yang dihabiskan untuk tugas administrasi hingga 30%, sehingga mereka dapat berkonsentrasi pada pembinaan hubungan pelanggan dan penyelesaian transaksi.
4. HR generalist mempelajari employee experience design
HR generalist mengikuti kursus yang mencakup journey mapping, umpan balik, dan penggunaan platform pengukuran pengalaman karyawan. Ia menggunakan keterampilan baru itu untuk mendesain ulang proses onboarding dan memperkenalkan pulse survey, yang menghasilkan keterlibatan dan retensi karyawan yang lebih baik.
5. Teknisi belajar alat diagnostik
Teknisi lapangan meningkatkan keterampilannya dengan mempelajari cara mengoperasikan alat diagnostik berbasis AI. Hal ini mengajarkan mereka cara mendeteksi masalah sistem dengan lebih cepat dan akurat, sehingga dapat menangani masalah sebelum memburuk, mengurangi waktu perbaikan, dan meningkatkan kepuasan klien.
Dalam lanskap bisnis yang berubah cukup cepat, perusahaan harus tetap relevan dengan kondisi eksternal sekaligus internal. Khusus untuk internal, perusahaan perlu berinvestasi pada pengembangan keterampilan karyawan karena upaya tersebut dapat membuka jalan bagi pertumbuhan mereka dan mendukung keberlanjutan bisnis.
Temukan wawasan tentang pengembangan keterampilan karyawan di laman ini.


