Skill gap bukan permasalahan milik kandidat, pencari kerja, atau karyawan. Ini juga menjadi hambatan bagi perusahaan yang membutuhkan tenaga kerja terampil guna mengembangkan bisnis mereka. Skill gap adalah masalah bersama yang perlu diatasi oleh semua pihak, termasuk pelaku bisnis, pemerintah, dan institusi akademik.
Apa Itu Skill Gap?
Skill gap merupakan kesenjangan yang terjadi antara keterampilan yang dibutuhkan oleh suatu peran dengan kemampuan individu yang menempati atau melamar pekerjaan tersebut. Bila kondisi ini tidak diatasi akan memengaruhi produktivitas perusahaan, bahkan dapat berpengaruh terhadap ekonomi di suatu negara.
Jenis keterampilan yang sering menjadi bagian dari gap ini meliputi keterampilan teknis (technical skill) seperti penguasaan teknologi, analisis data, dan artificial intelligence (AI) serta keterampilan lunak (non-technical skill atau soft skill) seperti critical thinking, komunikasi, dan kepemimpinan.
Di tengah perubahan dunia kerja yang dipengaruhi oleh teknologi, perubahan pasar kerja, dan tuntutan kompetensi yang terus meningkat, skill gap semakin mendapat sorotan berbagai pihak. Dari pihak kandidat, mereka merasa kesulitan mendapatkan pekerjaan, sementara itu di sisi perusahaan, mereka susah memperoleh karyawan baru yang sesuai kebutuhan mereka.
Pihak mana yang seharusnya berbenah diri untuk menutup kesenjangan keterampilan kerja? Dari sisi pencari kerja atau perusahaan?
Next: Inilah Daftar Gaji Karyawan Junior di 10 Industri
Tantangan Skill Gap di Dunia Kerja
Coursera menyebutkan sebesar 87 % perusahaan global telah melihat atau mengantisipasi skill gap dalam beberapa tahun mendatang, karena kemunculan AI, automasi, dan data science memaksa mereka memerlukan tenaga kerja dengan kompetensi tersebut.
Ya, tantangan mengenai skill gap di tempat kerja tak hanya terjadi dari sisi individu, juga perusahaan, pemerintah, maupun sistem pendidikan. Apa saja tantangan tersebut?
- Banyak institusi pendidikan yang belum mampu mengikuti perkembangan industri, baik dari sisi materi pendidikan maupun pelatihan, sehingga lulusan mereka belum selalu siap secara kompetensi untuk pekerjaan yang tersedia
- Perusahaan gagal menyediakan pelatihan memadai untuk menutup kesenjangan tersebut
- Perusahaan kurang memprioritaskan kebutuhan reskilling dan upskilling kepada karyawan sehingga keterampilan mereka kurang relevan dengan kondisi kerja saat ini
- Pemerintah kurang tanggap dalam meminimalkan skill gap, baik dari kebijakan maupun eksekusi peraturan di lapangan
Next: Begini Jika Gen Z Menganggap Orang Tua sebagai Career Advisor
3 Strategi Menutup Skill Gap antara Karyawan dan Perusahaan
Mengingat skill gap ini masalah semua pihak, maka harus ada upaya bersama untuk menutup kesenjangan keterampilan. Ini adalah kunci yang tak sekadar meningkatkan produktivitas individu atau perusahaan, juga menaikkan produktivitas negara. Berikut ini strategi mengatasi skill gap:
1. Langkah pencari kerja dan karyawan
Bagi individu–baik pencari kerja, fresh graduate, atau karyawan–perlu memiliki strategi untuk menutup atau mengurangi skill gap dengan:
- Mengidentifikasi keterampilan atau kompetensi yang diperlukan di bidang Anda dengan yang telah dikuasai
- Memanfaatkan platform daring, program sertifikasi, atau kursus singkat untuk mengisi celap yang dibutuhkan di bidang kerja Anda
- Berpartisipasi dalam proyek atau berpindah ke divisi atau departemen lain untuk mengasah keterampilan saat ini dan memperoleh keterampilan baru
- Fokus pada keterampilan yang relevan dan berkembang, seperti AI, data analytics, cybersecurity, komunikasi, dan manajemen
- Mencari mentor yang sudah berada di bidang Anda (mentoring), terlibat dalam komunitas profesional (networking), dan meminta arahan pengembangan keterampilan
- Meminta umpan balik dan menetapkan tujuan pengembangan keterampilan sembari memperbaiki strategi, membuat rencana pembelajaran, dan mengukur hasilnya
2. Langkah Perusahaan
Perusahaan yang ingin unggul harus aktif mengatasi skill gap pada aset mereka. Oleh karena itu, perusahaan dapat mempertajam keterampilan karyawan melalui upaya:
- Menganalisis keterampilan gap skill yang dibutuhkan perusahaan saat ini dan di masa depan serta keterampilan yang kurang dimiliki oleh karyawan
- Menerapkan strategi pembelajaran berbasis kebutuhan bisnis yang selaras dengan visi perusahaan serta menyediakan program reskilling dan upskilling secara sistematis
- Mendorong kolaborasi dengan institusi pendidikan atau vendor pelatihan agar pembelajaran relevan dengan industri dan bisa segera diimplementasikan
- Mengukur hasil dan return on investment (ROI) dari program pelatihan guna melihat dampak pelatihan terhadap performa, produktivitas, dan retensi karyawan
- Mendorong model kerja berbasis keterampilan (skill-based hiring & development) agar penilaian karyawan bukan hanya berdasarkan gelar, tetapi berdasarkan keterampilan yang relevan dengan pekerjaan
3. Sinergi antara karyawan dan perusahaan
Untuk menutup skill gap secara berkesinambungan, kondisi ini memerlukan sinergi antara inisiatif individu dan dukungan perusahaan. Beberapa hal yang perlu diperhatikan:
- Individu perlu berinisiatif dan bertanggung jawab untuk belajar, menetapkan target, dan menerapkan keterampilan baru
- Perusahaan perlu menyediakan lingkungan dan sumber daya yang mendukung, seperti pelatihan, bujet, waktu luang untuk belajar, dan budaya kerja yang menerima kegagalan sebagai bagian dari pembelajaran
- Komunikasi harus terbuka, antara manajemen harus memahami aspirasi pengembangan karyawan dan karyawan harus menyampaikan kebutuhan pembelajarannya
- Tugas karyawan dan perusahaan wajib mengevaluasi hasil pengembangan keterampilan secara berkala, lalu melakukan penyesuaian strategi
Sebagai pencari kerja, Anda perlu proaktif dalam mengidentifikasi dan mengembangkan keterampilan yang dimiliki saat ini dan dibutuhkan oleh dunia kerja. Tentu saja, Anda perlu mengimplementasikan praktik belajar terus-menerus seiring perkembangannya.
Bagi perusahaan, memberikan akses ke jalur pelatihan dan hasilnya dapat diaplikasikan terhadap pekerjaan serta menciptakan budaya pembelajaran berkelanjutan. Langkah tersebut menjadi pendekatan yang tepat untuk menutup kesenjangan keterampilan. Pada saat yang sama, perusahaan perlu memperluas dan mendiversifikasi jalur rekrutmen untuk mengisi kekurangan tenaga terampil.


