Apa saja keterampilan fresh graduate yang diperlukan untuk memasuki dunia kerja? Pasalnya, di tengah keluhan perusahaan mengenai skill gap, karena keterampilan kerja kandidat tidak sesuai dengan tenaga kerja yang mereka butuhkan, ada pula rencana perusahaan yang ingin menggantikan tenaga kerja manusia dengan artificial intelligence (AI). Alhasil, penyerapan tenaga kerja tidak optimal.
Banyak lulusan perguruan tinggi berjuang untuk mendapatkan pekerjaan baru saat ekonomi serba tidak pasti, pasar kerja yang ketat, dan adopsi AI semakin meningkat. Jika perusahaan menunda proses rekrutmen karena kondisi tersebut, maka posisi tingkat pemula akan terancam berkurang.
Saran CEO Airbnb Kepada Mahasiswa dan Fresh Graduate
CEO Airbnb Brian Chesky dalam wawancara dengan ABC News, dikutip dari CNBC, mengatakan mahasiswa yang khawatir tentang prospek karier di dunia kerja yang sedang ditransformasi oleh AI, sebaiknya fokus terhadap pengembangan keterampilan nonteknis. Keterampilan tersebut akan bertahan di tengah gejolak seperti ini.
Chesky menambahkan informasi bahwa orang-orang harus mempelajari hal-hal yang mereka minati. Namun, mereka juga harus mengembangkan keterampilan yang akan selalu mereka butuhkan.
“Anda akan selalu perlu belajar cara memecahkan masalah. Anda akan selalu perlu belajar mengembangkan keterampilan kepemimpinan di sebagian besar posisi. Jadi, mulailah sebuah klub, lakukan sesuatu. Anda akan selalu perlu belajar berpikir kritis dan berkomunikasi dengan sangat jelas.”
Bagi Chesky, meski AI siap mengubah sebagian besar cara kita bekerja, tetapi beberapa hal tidak akan pernah berubah.
Next: 7 Komponen Penting dalam Lowongan Kerja bagi Fresh Graduate
Wajib Dimiliki: 4 Keterampilan Fresh Graduate Untuk Memasuki Dunia Kerja
Chesky menyarankan mahasiswa dan fresh graduate untuk memiliki keterampilan nonteknis berupa leadership, problem solving, critical thinking, dan komunikasi. Berikut ini penjelasannya:
1. Leadership
“Orang-orang akan menginginkan koneksi, orang-orang akan tetap menginginkan hubungan. Kepemimpinan akan tetap penting,” ujar Chesky.
Menurut Chesky, definisi pemimpin yang baik adalah mereka yang baik berkomunikasi dengan jelas, memiliki tujuan yang jelas, dan sangat terorganisir. Untuk menciptakan sekaligus membina pemimpin seperti itu, perusahaan harus merekrut karyawan pada posisi level pemula, alih-alih mengganti manusia dengan AI untuk posisi tersebut.
Analisis perusahaan teknologi Revelio Labs menemukan bahwa lowongan pekerjaan level pemula turun sekitar 35% dari Januari 2023 hingga Juni 2025. Jika kondisi ini dibiarkan begitu saja, di mana fresh graduate tidak berkesempatan bekerja di organisasi, maka kita tidak akan memiliki pemimpin masa depan.
“Jadi, kita perlu memberi ruang bagi orang-orang yang masih muda kariernya, meskipun AI bisa melakukan pekerjaan para pekerja magang,” tambah Chesky.
Ya, alat dilengkapi dengan teknologi AI dapat melakukan banyak pekerjaan tingkat rendah atau menggantikan posisi yang lebih pemula. Namun, alat tersebut akan kesulitan dengan pemikiran baru yang masuk dari manusia, sehingga mereka perlu diberi tahu apa yang harus dilakukan di setiap langkahnya.
2. Problem solving
Problem solving adalah keterampilan sekaligus proses menyelesaikan masalah yang dihadapi di berbagai lingkungan, seperti di rumah, sekolah, kantor, dan situasi sosial lainnya. Sebagai sebuah proses, pemecahan masalah melibatkan serangkaian langkah untuk menemukan solusi atas pertanyaan atau kekhawatiran yang muncul sepanjang hidup.
Di lingkungan pekerjaan, keterampilan problem solving akan melibatkan kemampuan menganalisis, berkomunikasi, beradaptasi, berkolaborasi, hingga ketahanan dan kreativitas. Dengan hal tersebut, seseorang dapat mengatasi tantangan kompleks dengan strategi pemecahan masalah yang tepat.
Pemecahan masalah yang efektif melibatkan lima langkah penting. Salah satu cara untuk mengingatnya melalui model IDEAL, yang diciptakan pada 1984 oleh profesor psikologi John D. Bransford dan Barry S. Stein.
Langkah untuk memecahkan masalah dalam model ini meliputi: mengidentifikasi (identify) masalah, menentukan (define) tujuan yang ingin dicapai, mengeksplorasi (explore) solusi potensial, memilih solusi dan menindaklanjutinya (choose and act), serta melihat (look) atau mengevaluasi hasilnya.
3. Critical thinking
Ini merupakan keterampilan untuk mengidentifikasi masalah, mengumpulkan informasi tentang masalah tersebut, dan mengevaluasi berbagai solusi sebelum mengambil keputusan terhadap masalah. Jelas, critical thinking dibutuhkan oleh setiap orang, termasuk fresh graduate, di dunia profesional.
Jadi, cara Anda untuk mengembangkan critical thinking di era informasi yang melimpah adalah:
- Evaluasi sumber sebelum menerimanya, lalu memeriksa kredibilitas sumbernya
- Terima ambiguitas dan pahami bahwa pengetahuan terus berkembang melalui revisi dan penyempurnaan
- Cari berbagai perspektif atau sudut pandang dari suatu masalah, baik yang Anda setujui atau tidak, dan pahami argumen yang berlawanan sehingga mempertajam pemikiran analitis
- Waspadai misinformasi yang sering kali mengeksploitasi emosi seperti ketakutan atau kemarahan, sehingga Anda tetap mengutamakan penilaian rasional daripada reaksi emosional
- Dorong diri Anda untuk mengikuti diskusi dan debat di lingkungan pendidikan, lalu ajukan pertanyaan kepada narasumber atau peserta lain sehingga ini menjadi pembelajaran langsung bagi diri sendiri
4. Komunikasi
Keterampilan komunikasi merujuk tentang cara seseorang menyampaikan pesan yang mudah dipahami oleh orang lain. Hal ini melibatkan pemahaman bagaimana cara berkomunikasi dengan orang lain yang membuat mereka mendengarkan Anda. Keterampilan komunikasi tak hanya soal berbicara di depan orang lain, juga mendengarkan tanpa menginterupsi, menulis, dan digital.
Untuk mengasah keterampilan komunikasi fresh graduate, Anda bisa memulainya dengan cara seperti ini:
- Sering menyampaikan pendapat di depan kelas atau forum
- Menulis untuk menuangkan pikiran dan pengalaman, sehingga melatih cara berpikir serta berkomunikasi melalui tulisan
- Melihat dan mempelajari cara pemimpin atau ahli komunikasi berbicara di depan umum
- Melatih komunikasi di rumah dengan orang lain guna mempersiapkan diri untuk menghadiri wawancara kerja
- Mengajukan diri untuk menyampaikan materi presentasi di forum atau kelompok
Next: Kualifikasi dan 7 Entry Level Job bagi Lulusan Baru
Bagaimana Masa Depan Manusia Vs AI?
Tak sedikit pengusaha yang memprediksikan dampak AI terhadap tenaga kerja. Manusia tak hanya bersaing dengan sesama manusia, tetapi juga AI yang kehadirannya ada di mana-mana, seperti sistem HR, perangkat lunak project management, hingga customer relations.
Mark Zuckerberg telah mengatakan AI akan mampu membantu pekerjaan staf tingkat bawah hingga menengah dalam waktu dekat, sehingga kondisi ini akan berdampak pada dunia ketenagakerjaan di masa depan.
Chesky berpendapat bahwa bertaruh pada industri yang akan paling aman dari disrupsi AI pada tahun mendatang adalah usulan yang merugikan. Cara untuk menjalankan setiap perubahan tenaga kerja dari AI adalah dengan terus bergerak maju.
“Empat tahun lalu, tidak ada yang membicarakan AI. Jadi, sulit untuk memprediksi dengan tepat di mana dunia akan berada dalam lima tahun. Jadi, cobalah pelajari hal-hal yang menurut Anda akan selalu benar terlepas dari teknologinya dan ikuti saja rasa ingin tahu Anda.”
Eksplorasi wawasan tentang dunia kerja dan peluang baru hanya di sini.


